Kamis, 11 September 2014

JEJAK SEMANGAT DARI KELOMPOK 8 KELAS INSPIRASI BOGOR #2


  • BRIEFING RELAWAN PENGAJAR, PHOTOGRAPHER & VIDEOGRAPHER
SURAT PEMBERITAHUAN RELAWAN INSPIRATOR KELAS INSPIRASI BOGOR #2
Email dari panitia Kelas Inspirasi Bogor #2 pada 17 Agustus 2014 lalu, berisi pemberitahuan kepada setiap penerimanya bahwasannya telah terpilih menjadi relawan pengajar, photographer dan videographer pada Kelas Inspirasi Bogor #2 yang diadakan pada 9 September 2014. 

Inilah yang mengawali langkah setiap relawan terpilih, bertatap muka untuk kali pertamanya dalam briefing bersama panitia dan semua pihak yang terlibat untuk Kelas Inspirasi Bogor #2 pada 9 September 2014.

Mungkin sebagian kita yang membaca ini masih belum paham betul apa itu Kelas Inspirasi. Berikut sekilas penjelasan mengenai Kelas Insiprasi yang Saya kutip dari http://kelasinspirasi.org/?page=about :

Kelas Inspirasi adalah gerakan para profesional turun ke Sekolah Dasar (SD) selama sehari, berbagi cerita dan pengalaman kerja juga motivasi meraih cita-cita. Cerita tersebut akan menjadi bibit untuk para siswa bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka. Tujuan dari Kelas Inspirasi ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional, serta agar para profesional, khususnya kelas menengah secara lebih luas, dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita.
Diharapkan ke depan, terjalin relasi yang dapat terus menerus mereka pelihara baik untuk kepentingan jangka pendek membangun pendidikan di sekolah tersebut ataupun sekadar berjejaring dan berkomunikasi terus. Hal ini sebagai wujud jendela komunikasi antarprofesional sebagai kelas menengah dan dunia pendidikan di SD sebagai salah satu area yang perlu diadvokasi dan dikembangkan terus-menerus.
Kelas Inspirasi ini menjadi solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan dunia sekolah. Partisipasi para profesional tersebut untuk mengambil cuti sehari dan berbagi pengalamannya bersama anak-anak SD, merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan institusi. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi. Ke depannya, Kelas Inspirasi ini diharapkan mampu mendorong kalangan profesional untuk berperan aktif dalam pendidikan melalui kegiatan serupa.
"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."


Berdasar tujuan mulia inilah, lebih dari 300 orang yang terdiri dari relawan pengajar, photographer & videographer berkumpul dalam briefing yang diadakan panitia di Aula SD Mardi Yuana Bogor. dalam briefing tersebut, semua peserta yang hadir mendapatkan penjelasan lebih detail mengenai Modul Pelaksanaan pengajaran Kelas Inspirasi Bogor #2. 

Berbagai pengetahuan yang berdasar pada pengalaman dan peristiwa langsung dari para relawan di kelas Inspirasi Bogor #1, menjadi bekal yang sangat berbobot bagi kami para relawan, khususnya yang baru kali pertama mengikuti.

Di moment inilah setiap relawan bertemu dengan anggota kelompoknya yang terdiri dari 10-15 orang. 
Ada total 25 kelompok yang nantinya akan diutus mengajar di 25 SD di Kotamadya & Kabupaten Bogor.

Menampilkan 2014-08-30 10.22.00.jpg
BRIEFING

"Relawan pengajar akan bercerita tentang siapa mereka, apa pekerjaan mereka, sepenting apa pekerjaan mereka bagi masyarakat, sampai bagaimana cara mereka mendapatkan pekerjaan itu. Sedangkan, relawan fotografer dan videografer akan mengabadikan keceriaan serta semangat di Hari Inspirasi tersebut,"
Angga Putra Fidrian, Koordinator Kelas Inspirasi Bogor 2
Dan inilah wajah ceria dari kelompok Saya, kelompok 8!
Kali pertama bertemu dengan mereka, berkenalan dan ngobrol-ngobrol seputar profesi masing-masing, rasanya sudah mengenal mereka sejak lama lho:)
Menampilkan IMG-20140830-WA0039.jpg
KELOMPOK 8 KELAS INSPIRASI BOGOR #2

Total kelompok kami ada 11 orang dengan satu tutor panitia yang mendampingi. 
Tapi, saat briefing, dua orang kelompok kami tidak hadir. satu orang hanya bisa hadir pada  hari H di 9 September dan satu lagi undur dari kelas Insiprasi karena satu dan lain hal.

Inilah nama-nama anggota kelompok 8 Kelas Inspirasi Bogor #2 yang bertugas menjadi relawan di SD Ciapus 2

No.
Nama
Profesi
     1.       
Anita Kurnia Dewi
Staf Divisi Pembinaan Anak & Pemuda
     2.       
Dwi Taufan Giovad
Photographer
     3.       
Dzul' Afifah Arifin
Program Assistant FAO Indonesia
     4.       
Januarius Gunawan
Salesman
     5.       
M. Firas Faishal
Traveller
     6.       
Muhammad Tanto
Pegawai Ditjen Pajak
     7.       
Nurul Ismiyatun
Apoteker
      8.       
Ranilia Lestari Putri
Purba
HR Training&Development
     9.       
Sitti Isnaini Sutaarga
QA-IT, Banker
     10.   
Wahyu Andrianto
Konsultan Bisnis
     11.   
Marina Prathivi
Tutor Kelompok 8



Menampilkan IMG-20140831-WA0013.jpg
"SAY CHEERRRSSSS.....


Perkenalan singkat kami ga hanya berakhir di briefing ini, segera kami membuat chatt group untuk berkoordinasi sampai hari H. 

Dimulai dari tanggal 31 Agustus 2014 s/d hari H, kelompok 8 terus berkoordinasi dan menjadwal beberapa kali pertemuan dan survei lokasi. 

Saya ingat, email pertama yang Saya terima adalah mengenai rencana kunjungan pertama ke lokasi SD Ciapus 2 sebelum hari H, dengan beberapa daftar survei yang harus dilengkapi:



Ga banyak dari kelompok kami yang bisa ikut survei lokasi, termasuk Saya, terima kasih kami kepada Mas dan Mba yang udah siapin waktunya buat survei ke SD Ciapus 2 :)

Menampilkan IMG-20140906-WA0020.jpg
SURVEI LOKASI
Dari survei tersebut, kelompok kami mengantongi data-data seputar SD Ciapus 2 yang sangat kami perlukan untuk pembagian kelas & persiapan materi mengajar nanti.

Hai hai berikut bbrp hasil wawancara kami dgn Pak Hendrik (Perwakilan pihaksekolah): 

1. Kelas 1a jumlah 42 siswa 07.00-09.00
2. Kelas 1b jumlah 37 siswa 07.00-09.00
3. Kelas 2a jumlah 38 siswa 09.00-12.00
4. Kelas 2b jumlah 34 siswa 09.00-12.00
5. Kelas 3a jumlah 37 siswa 13.00-15.00
6. Kelas 3b jumlah 38 siswa 13.00-15.00
7. Kelas 4a jumlah 43 siswa 14.00-17.00
8. Kelas 4b jumlah 43 siswa 14.00-17.00
9. Kelas 5a jumlah 35 siswa 14.00-17.00
10. Kelas 5b jumlah 35 siswa 14.00-17.00
11. Kelas 6a jumlah 38 siswa 07.00-12.00
12. Kelas 6bjumlah 38 siswa 07.00-12.00

Total 458 siswa
Jumlah semua guru 10 PNS, 6 HONORER


Menampilkan IMG-20140901-WA0018.jpg
PEMBAGIAN KELAS  BERDASARKAN SURVEI

Saya dan masing-masing anggota kelompok lainpun mulai merancang lesson plann berdasarkan profesi kami masing-masing. Semua mulai mematangkan kembali materi mengajar termasuk di dalamnya alat peraga, games dan peralatan yang diperlukan sepanjang menjalankan tugasnya sebagai inspirator pengajar maupun photographer.


Menampilkan IMG-20140907-WA0002.jpgMenampilkan IMG-20140908-WA0003.jpgMenampilkan IMG-20140904-WA0050.jpgMenampilkan IMG-20140908-WA0002.jpg


Semangat saya terus bertambah karena melihat semangat kelompok Saya yang sangat "menyala-nyala". Walaupun usia Saya yang paling muda, dan yang lain ada yang berusia seperti kakak, Ibu dan Om bagi Saya, tetapi semangat mereka ga kalah dengan anak abege lho :D

Dengan kesibukan di profesi masing-masing, belum lagi kewajiban beberapa anggota kelompok sebagai Ibu dan Ayah yang harus membagi waktu dengan keluarga, tetapi  mereka masih terus memberi progress persiapan mengajar di hari H baik melalui email dan chatt group. 

Ga heran deh, kalo setiap hari group kami ga pernah sepi dari chatt :D, kadang jokes dan candaan yang di share ngebuat ketegangan persiapan kelompok menjelang hari H sedikit mencair :D

Sama halnya dengan kelompok saya, Saya yakin, kelompok lain juga memiliki sejuta kesan dan cerita seru - menarik dalam setiap persiapan, pertemuan dan relasi yang terjalin mulai dari briefing sampai akhir Kelas Inspirasi nanti.

Saya banyak belajar dari Mba-mba dan Mas-Mas (sebutan kami satu sama lain :D) kelompok 8.
Semangat mereka mengajarkan saya arti pentingnya kerjasama tim, kerendah-hatian dan pengorbanan baik dana, daya, maupun waktunya.

Semangat berbagi dan tolong-menolong!
Itulah kesan yang Mba-Mba dan Mas-Mas goreskan dihati Saya:")

Semua persiapan yang telah kita lewati bersama mengukir cerita yang ga terbayar oleh apapun
Bagi Saya, Mba-Mba dan Mas-Mas semua adalah bagian dari rangkaian perjalanan hidup Saya.

Terima kasih atas semangatnya


With Love


Anita Kade

Senin, 28 April 2014

IMAGO CREATIVE WORKSHOP #DAY1

Setelah melihat 5 Film pendek finalis IMAGO Film Festival
kita beralih pada kelas-kelas Workhsop yang mempertemukan saya pada dua tokoh inspiratif
Lukman Sardi & Titien Wattimena pada 2 sesi ini:

ACTING WORKSHOP & FILM SCRIPTWRITING

Dua Kelas Yang Saya Ikuti


ACTING WORKSHOP

Lukman Sardi adalah salah satu aktor watak yang dimiliki Indonesia. Karir aktingnya dimulai jauh sebelum era perfilman Indonesia bangkit di tahun 2000-an. Di film pertamanya, Lukman sudah disandingkan dengan nama besar Christine Hakim dan Alan Suryaningrat
Banyak ilmu dan inspirasi yang saya dapati dari  Mas Lukman  dalam waktu yang tidak terlalu panjang saat itu, ilmu tersebut mahal buat saya dan ,menyelipkan pesan mengenai motivasi :)



"......SEMUA MANUSIA ITU BERACTING"

Kalimat itu yang diucapkan kali pertama Mas Lukman untuk membuka kelas ini...
Hmmm... Well, ini bener banget lho. Setiap manusia itu ga lepas dari yang namanya "akting" dalam segala sisi hidupnya. 
Peristiwa atau kondisi apapun akan memperhadapkan kita untuk memerankan sesuatu yang dilihat orang lain, entah saat itu kita memakai topeng atau menampilkan wajah asli karakter kita.

Jadi, jangan pernah katakan kalo kita ga bisa berakting, karena sejatinya setiap manusia sedang berakting dalam kehidupan ini.

Dari kelas ini, dapet ilmu mengenai 2 point yang harus kita perhatikan saat kita  memutuskan untuk memainkan sebuah peran:

1. MENGAMATI 
 Dalam banyak hal, kita ga terlepas dari proses mengamati. Ini adalah hal basic 
yang melatih kita memahami karakter atau ciri-ciri dari sesuatu hal yang sedang kita amati.
 Proses mengamati harus kita kerjakan dengan keseriusan. Di sinilah kita tidak hanya melihat, tetapi kita  memeriksa dengan seksama. Apapun yang sedang kita amati, jangan lekas percaya pada hasil pengamatan orang lain, tetapi yakinlah dengan apa yang kita amati


2. MEMBACA
Dengan membaca, kita digiring untuk berimajinasi terhadap sesuatu yang sedang kita baca. Membaca membutuhkan perhatian penuh untuk kita mengembangkan daya khayal kita pada tingkat yang membawa kita pada penjiwaan,



"......DALAM ACTING HARUS ADA MOTIVASI
AGAR TERJADI AKSI DAN REAKSI"

Dari serangkaian materi yang diberikan, satu hal mengenai MOTIVASI sangat menarik perhatian saya:)

Motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karen ingin mencapai tujuan
 yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya

Motivasi, ya itu penting buat saya. 
Dengan adanya motivasi, saya dimampukan untuk bergerak mencapai apa yang saya impikan.

Motivasi bisa saja negatif, tidak selalu bernilai positif, tetapi alangkah baiknya jika segala sesuatu yang hendak kita capai, di dalamnya terkandung motivasi yang baik sehingga menghasilkan hasil yang baik pula:)


LUKMAN SARDI:
"Dalam mendalami seni peran
yang paling penting adalah adanya MOTIVASI
sebab motivasi memunculkan rasa
yang dapat menyentuh siapapun yang melihat adegannya"

ANITA KADE:
"Dalam hidup ini
setiap kita memiliki peran...
dan MOTIVASI YANG BAIK diperlukan
untuk mengarahkannya kepada hasil yang gemilang"


FILM SCRIPTWRITING WORKSHOP


Mengawali karier sebagai asisten sutradara untuk video klip, iklan televisi, dan profil video. Titien dinominasikan sebagai skenario terbaik di Festival Film Indonesia 2011 melalui film berjudul "?"
Banyak pelajaran tentang menulis dan pengalaman pribadinya di dunia penulisan skenario film yang beliau bagikan untuk peserta yang hadir. Juga berbagai ilmu praktis mengenai penulisan beliau jabarkan dengan sangat inspiratif



Buat saya Mba Titien itu bersahaja, sederhana tetapi kecerdasan dan kepekaannya
memberikan inspirasi tersendiri buat saya
terutama dalam hal menulis....

"......IDE ITU MAHAL
TETAPI IDE MENJADI TIDAK BERARTI 
JIKA TIDAK DIWUJUDKAN DALAM SEBUAH KARYA"
Sepakat! Kalimat super Mba Titien ini sangat mendorong saya untuk terus berkarya lebih spesifiknya untuk terus menulis menulis dan menulis. 
Dari Workshop ini pikiran saya terbuka untuk memaksimalkan potensi dan talenta yang sudah Tuhan taruh dalam diri saya dan mengembangkannya. 
Bukan kah seringkali karena alasan kemalasan dan ribuan alasan lain yang kita ciptakan membuat kita mengabaikaan talenta Tuhan dalam diri kita dan lama kelamaan membiarkannya mati tidak bertunas?

Kita adalah pribadi yang tahu persis 
mengenai kemampuan apa yang kita miliki....
Hal ini berlaku untuk kemampuan di bidang apapun, 
misalnya menulis...
Jika kita mampu menulis, maka kita harus memiliki keberanian kepada orang di sekitar kita untuk menujukkan bahwa kita bisa menulis
Jangan pernah menyimpan kemampuan kita, 
karena bisa saja kemampuan itu 
membawa kita kepada perubahan yang lebih baik
tidak hanya untuk pribadi tetapi untuk orang lain
yang mungkin tidak kita kenal
Mulailah pada satu langkah keberanian untuk melangkah!











Rabu, 21 Maret 2012

Secercah Semangat & Cita dari Sekolah Darurat Kartini


I. PERJALANAN SURVEI KE SEKOLAH DARURAT KARTINI
13323414282098370518
 
Tepat pukul satu siang, saya, Idam, Trecy, Murni dan Ebeny tiba di sekolah itu. Sebuah palang nama sederhana dari triplek yang bertuliskan, “SEKOLAH DARURAT KARTINI PAUD, TK, SD, SMP & SMA SEKOLAH KETERAMPILAN (GRATIS)” menjadi saksi bisu sukacita yang kami rasakan setelah bergelut selama berjam-jam dengan tajamnya terik matahari, antrian panjang dan suasana berdesakan di TransJakarta. Perjalanan melelahkan itu terbayar sudah. Saya terhentak sejenak di depan palang nama itu, saya pegang papan nama itu dan tersenyum kecil. Senyum yang saya rasa kurang cukup untuk mewakili rasa bangga pada sekolah ini. Decak tawa anak-anak. Terdengar suara lantang dua orang wanita baya yang sedang mengajar mampir ditelinga. Ahh..rasanya tak sabar ingin masuk ke dalam ruangan kelas itu.
Sambil berjalan, saya terbayang perjalanan awal kami dari asrama kampus hingga tiba di depan sekolah ini. Sekolah darurat yang berisi orang-orang dengan prinsip dan nilai hidup kokoh , yang terus berjuang dengan daya kreatifitas dan kejujuran menghadapi arus dunia yang kejam dan liar ini.
Ya..hari ini takkan terlupakan begitu saja, Senin 17 Mei 2010, saya, Idam, Trecy, Murni dan Benny - seharusnya satu kawan kami juga ikut, Risty namanya, tapi dia berhalangan datang- melakukan survey ketempat magang kami dibulan Juni nanti. Kalau lihat penanggalan bulan ini kami sudah memasuki libur semester 4. Kampus kami sudah membuat program untuk mahasiswa angkatan X yang berjumlah hanya 8 orang. Tak usah heran dengan kuantitas mahasiswa yang minim dari STT Apostolos ini, karena kampus kami memang merekrut mahasiswa/i dalam kuantitas kecil. Itu juga direkrut dari daerah-daerah tertentu seperti, Nias, Salatiga dan Manado. Enam orang dari kami akan ditugaskan magang di Sekolah Darurat Kartini Ancol dan dua orang lagi di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selama 1 bulan lamanya. Sedangkan adik tingkat kami yang juga berjumlah 8 orang itu –angkatan XI- akan magang di kompartemen STT Apostolos Jakarta.
Ketika itu, pagi-pagi benar kami bersiap dari asrama. Kebetulan saya piket masak, jadi saya bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan pagi dan siang bersama dua orang adik tingkat yang paling saya sayangi, Tety dan Ida juga satu lagi Titin namanya.
“Eee Kade…
-itu adalah sebuah panggilan karib dari sahabat-sahabat saya di asrama-
“Kalian mau survey tempat magang ya? Jangan lupa oleh-oleh ya..heheheeee”, pintanya dengan tawa khas yang tersungging dibibirnya.
Tety…ya Tety.. dialah adik tingkat yang paling kukasihi, hanya kami yang tidak berasal dari Nias di asrama putri, selebihnya 6 orang dari kami adalah warga Nias.
“Heheeee..kak Anita lagi bokek neh dek, tar ya minggu depan aja aku traktir kalo kiriman udah datang” seruku,
“yang penting kamu doakan kita supaya survey tempatnya lancar-lancar aja, ok coy? Lanjutku sambil menyolek perutnya yang sedikit membucit itu.
Hmmm..tahukah betapa bersemangatnya saya untuk melakukan perjalanan nanti, terlepas dari anggapan orang-orang bahwa hari senin adalah “hari macet sedunia”, saya tak peduli, walaupun nanti kena macet, semoga saja aku ga mabok selama perjalanan. Kami mengawali perjalanan kami dengan naik bus 70, bus yang sudah terkenal ektsra ngebut di daerah Blok M - Joglo ini melesat dengan kecepatan 100km/jam, cepat sekali bukan? Hhuuuft….kalau saja saya tak pegangan kuat, mungkin saja saya akan terlempar dari kursi belakang,
hhmm… maklumlah itu adalah tempat favorit saya kalau berpergian dengan bus manapun. Kami turun di halte Medika Permata Hijau, setelah 10 menit menanti akhirnya busway pun datang.
Ya..ya..ya… tak salah kata orang-orang itu kalau Senin adalah hari macet sedunia, rasanya begitu lama perjalanan ke halte Harmoni. Jika membayangkan dari Harmoni kita masih harus masih ke Ancol dan menghadapi situasi macet seperti ini, sayaingin kembali ke asrama dan bersantai saja.
Hmmm… tapi saya langsung teringat pada sekolah darurat itu.
Saya ingin berjumpa dengan anak-anak yang bersekolah gratis disana.
Ibu Sri kembar… ya nama itu yang juga membangkitkan gairah saya untuk melawan kepenatan macet yang membelenggu pikiran dengan keluhan selama diperjalanan.
Sosok yang belum pernah ku kenal, namun pasti akan segera kukenal, sepasang ibu kembar yang mempunyai jiwa luar biasa untuk membangun sekolah ini.
Ah..kalau untuk beliau nantilah saya jelaskan tersendiri, yang pasti semangat ini langsung menyala kembali.
Setelah sekian lama berdesak-desakan di busway akhirnya kami tiba juga di halte Ancol. Fiiuhh…perut saya sudah mulai keroncongan, pantas saja saya lapar karena saat melongok jam tangan ternyata memang sudah waktunya makan siang. Kami memutuskan untuk duduk santai di sekitar jembatan Ancol-Lodan, karena amanat dari kampus, kita harus menghubungi Ibu Sri sesampainya di Ancol, untuk pengarahan selanjutnya menuju Sekolah Darurat itu. Sambil mencoba menghubungi Ibu Sri kembar yang sejak tadi hpnya mailbox terus, kami beristirahat di tempat duduk tukang ketoprak dan mie ayam.
Guys..hp Bu Sri mailbox terus neh, sambil nunggu kita makan dulu aja yuk..gimana? oke? Aku pesenin ya?” sahut saya sambil berkutat dengan hp untuk menghubungi Ibu Sri.
“Siippp..atur Kade, Idam mau pesen mie ayam ama ketoprak akh…” seru Idam bersemangat.
“Hah..kamu pesen dua dam,,ckckckc, ga salah? Si Benny aja yang cowok cuma pesen satu..mantaff dech kau Dam, perut kadut..hhihihii”, sindir saya sambil tersenyum kecil.
Begitu juga dengan Trecy, Murni dan Benny yang juga memesan makanan disana. Hemmm..suapan pertama benar-benar saya nikmati, walaupun ditemani pemandangan yang sangat kacau dari genangan air di sekitar Ancol, yang kini berubah warna menjadi ijo limut serta mengeluarkan bau yang anyir dan amis, saya tetap bersyukur.
“Toh selama sebulan nanti saya akan bergelut dan bersentuhan dengan duia yang 180 derajat berbeda dari sehari-hari di asrama, maka saya harus menyesuaikan diri dengan situasi kotor, bau dan jorok seperti ini, sekalipun ketika sedang makan”, sahut saya dalam hati, sambil melihat baligo Dufan yang mempromosikan wahana baru.
Wah betapa inginnya saya kesana dengan anak-anak jalanan yang kurang beruntung itu. Semoga kelak saya mempunyai rezeki cukup, dan dapat berbagi keceriaan bersama anak-anak dari Sekolah darurat Kartini itu. Amin.
“Heeerrggkkk…”, sendawa Trecy memecah lamunan saya untuk mengajak murid-murid SDK ke Dufan, “Uppsss..sorry friend ga sengaja” tukasnya sambil tertawa malu.
Saya langsung teringat kembali untuk menghubungi Ibu Sri, mengenai kelanjutan perjalanan kami. Singkat cerita, kami pun naik bajaj dari WTC Mangga Dua menuju Carefour Express Lodan. Sebelumnya kami melakukan tawar-menawar yang berlangsung alot dengan beberapa bajaj, sampai akhirnya kami menghetikan bajaj ketiga yang sepakat memberi harga 20 ribu. Itu juga setelah kami rayu sedemikian rupa.
“Ah,,tapi aku gimana?”, seru Benny dengan kening yang mengerut,
karena ia takut kalau-kalau dipangku kami para perempuan.
“Hahahahaaaa …..yaelah Ben, tenang aja napa, tar kamu duduk aja di atas besi deket supir”, jawabku sambil berkata setengah tertawa.
Lucu juga membayangkan satu bajaj yang sempit itu ditunggangi oleh 5 orang manusia, padahal kapasitas bajaj maximal 3 orang. Apalagi Benny adalah satu-satunya laki-laki yang bergabung dalam tim magang kami. Dengan segera benny menjawab,
“Ah ga mau Aku..masa Aku nungging sih?”, seru Benny dengan wajah memelas.
“Ya sudah kalo ga mau, kau tinggal disini saja! Jangan jadi bencong kau Ben!”
Ekspresi kekesalan Trecy memuncak, karena ia risih mendengar sepanjang perjalanan dari asrama, Benny seringkali mengeluh. Begitulah Trecy, walau tubuhnya paling mini diantara kami, tapi kalau sudah marah,,hhmmm makiannya bisa bikin sakit hati stadium 5, heheheee. …Tapi biar bagitu ia adalah sosok yang setia kawan dan peduli dengan keadaan teman-temannya. Akhirnya Benny pun setuju untuk naik bajaj bersama kami.
Dalam keadaan sunburnt bajaj yang kami tumpangi mengendara dengan suara cemprengnya, menyelinap celah-celah kecil yang masih bisa dijangkau. Saat itu, macet tak terelakkan, rasa haus, capek, mual, panas, lapar semuanya campur jadi satu. Berlima di dalam sebuah bajaj membuat keadaan semakin sumpek, dalam keadaan seperti itu, Trecy memainkan sains of humor nya, hal itu cukup membuat kami terhibur. Setelah melewati kemacetan luar biasa itu, akhirnya kami tiba di Carefour Express Lodan.
Sesuai instruksi dari Ibu kembar Sri, kami harus menyusuri jalan Lodan Raya dan -dengan pemandangan kemacetan disisi kanan-kiri jalan- rel kereta di daerah sana. Kami pun menyebrang dari arah Carefour Express Lodan dan menelusuri jalan setapak, kami berjalan dan terus berjalan, sampai menemukan rel kereta yang dikatakan Ibu Sri tadi. Ingin sekali kami menengguk segelas air dingin untuk menghilangkan dahaga kami yang membara, namun keinginan itu kami tangguhkan.
Yang ada dipikiran saya saat itu adalah segera bertemu dengan anak-anak Sekolah Darurat Kartini dan melihat interaksi yang berlangsung disana. Setelah sekitar 1 km kami berjalan, akhirnya kami menemukan rel kereta yang menjadi patokan menuju sekolah itu.
“Heheheeee..Soaya ijalala kereta api”, ucap Idam dalam bahasa Nias, yang artinya “ ya Tuhan…itu dia rel kereta apinya”
“Yup..akhirnya sampai juga kita di rel yang dibilang Bu Sri, aku telpon dia dulu ya.” Lalu sambil menunggu di warung kelontong dekat rel, saya menelpon Bu Sri kembar.
Tuuut…tuuttt..tuuuttt……
“Halo Assalammualaikum”, suara lantang Bu Sri menjawab telponku
“Ya halo..Wa’laikummsalam Bu..Saya dan kawan-kawan sudah sampai di rel kereta api neh, lalu kita harus kemana lagi ya Bu?” Tanyaku bersemangat
“Oh ya..ya..ya.. tunggu saja disana, nanti anak Ibu yang jemput kamu yo!” Jawab Bu Sri dengan logat Jawa medok.
“Ok Bu Saya tunggu disini ya, patokannya di jembatan Bandan ya Bu, terima kasih ya Bu”
Perjalanan kami sudah semakin dekat. Hal itu membuat kami semakin bersemangat lebih lagi. Sambil menyusuri lintasan rel kereta api yang rawan karena tidak ada pengamanan disekitarnya, kami mengabadikan perjalanan kami menyusuri rel kereta dengan video yang ada di kamera. Walau rasa lelah, tapi kami tidak mau mengeluh, karena kami sangat bahagia bisa ditempatkan di Sekolah Darurat Ibu Kembar Sri ini.
Pada akhirnya, sampailah kami di Sekolah Darurat Kartini.
Terima kasih Tuhan sudah menyertai perjalanan ini….
II. KALI PERTAMA KUJATUH HATI DENGAN
SEKOLAH DARURAT KARTINI
1332341577527816724
Begitu banyak keajaiban yang saya temukan di Sekolah Darurat Kartini ini. Tatkala Ibu guru kembar mempersilahkan kami masuk, disitulah kali pertama saya injakkan kaki ke dalam ruangan kelas sekolah petak yang berada di tengah perkampungan kumuh, tak jauh dari jembatan layang ini, ada suatu getaran hati yang unik di sanubari. Rasanya terenyuh sekali, sulit saya menggambarkannya. Saat itu, saya melihat ada banyak murid yang sedang belajar, jumlah mereka kira-kira 80 anak, itupun campuran dari siswa SD-SMA, ya.. beginilah keadaannya…bentuknya bangsal. Seragam putih-biru langit yang mereka kenakan menambah semarak warna cerah di ruangan yang kira-kira berukuran itu. Saya terus memperhatikan keadaan di dalam kelas. Ada 13 baris meja yang setiap barisnya terdiri dari lima buah meja dengan masing-masing 2-3 kursi, jadi totalnya sekitar ada 65 meja dan 130 buah kursi. Di depan kelas juga tersedia lima buah whiteboard roda yang praktis untuk dipindahkan kemana saja. Tak jauh dari situ juga tersedia dua buah rak buku kayu yang berisi buku-buku paket pelajaran dari SD-SMA.
“Ayo-ayo Nak…Silahkan duduk!” Seru Ibu guru kembar kepada kami, sambil mempersilahkan kami duduk disebuah kursi kayu yang unik bentuknya.
“Iya Bu, terima kasih…” Aku menjawab dengan tersenyum, “Kursinya unik ya Bu?Bagus..”Tanyaku
“Oh..La iya..Ini buatan murid-murid disini, mereka buat dari kayu-kayu rel kereta” Jawab Ibu guru kembar dengan logat Jawanya yang medok
Dengan ekspresi terkagum perhatian saya teralih oleh kegiatan membatik yang dilakukan beberapa murid putri Sekolah Darurat Kartini.
“Wah ada kegiatan membatik juga ya Bu?” Tanya saya dengan pandangan yang tak lepas dari murid-murid yang sedang membatik.
“Oh jelas..La iya…” Seru Ibu Guru,
“Sudah banyak hasil karya mereka dan laku terjual dengan harga yang tinggi, anak-anak disini tarampil semua, jago-jago membatik dan keterampilan lainnya”. Tambahnya.
Selain itu saya juga melihat ada peralatan marawis disudut tembok, sudah dapat dipastikan bahwa murid-murid disini juga mahir memainkan musik tradisional marawis itu.
Kami pun terlibat pada suatu percakapan perkenalan singkat dengan Ibu Guru kembar. Hal yang pertama kami lakukan adalah memberikan surat keterangan dari kampus. Perlahan Ibu Guru Kembar membukanya, lalu ia meminta kami memperkenalkan diri masing-masing. Tak lama kemudian beliau langsung membagikan tugas mengajar kita semua, yang pasti kami hanya boleh mengajar kelas PAUD yang tak lain dipegang oleh saya dengan rekan saya dari SDK yaitu Ety, TK dan SD, sedangkan SMP dan SMA dipegang langsung oleh Ibu Guru Kembar.
Sambil mencatat pembagian kelas tersebut, kami memperhatikan betul peraturan yang diberikan oleh Ibu Guru kembar kepada kami seperti memasak bersama murid setiap harinya, harus memakai kemeja, celana bahan dan bukan jeans, tidak membawa unsur agama dalam mengajar –karena ini sekolah yang sifatnya umum-, menjaga nama baik sekolah dsb. Setelah itu kami masih bercakap-cakap mengenai sekolah ini juga profil singkat Ibu Guru Kembar. Baru saya tahu kalau beliau-beliau ini adalah seorang janda. Mereka sungguh terlihat tangguh, penuh pengorbanan dan kesetiaan, mendirikan sekolah ini dan mengajar sendiri naradidik disini, tanpa pemungutan biaya sekolah dan tenaga pengajar dari luar. Kalaupun ada hanya satu orang guru B. Inggris laki-laki yang bernama Pak Mursito, beliau mengajar setiap hari sabtu saja, selebihnya ya hanya Bu Guru sajalah yang me-manage seluruh kegiatan di sekolah ini.
Percakapan berlanjut pada persoalan tempat tinggal kami selama magang di sekolah ini, saya dan rekan-rekan memang berencana untuk kost selama sebulan ke depan, karena pihak kampus menyampaikan informasi bahwa kita tidak bisa mengandalkan pihak Sekolah darurat Kartini untuk penyediaan tempat tinggal kami. Setelah hal itu kami utarakan kepada Ibu Guru, ternyata diluar dugaan kami, beliau menawarkan kepada kami untuk tinggal di sekolah jika kami mau. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan, kamipun menyambut gembira tawaran beliau. Akhirnya kami sepakat untuk tinggal di sekolah ini dengan catatan setiap hari Mingggu pagi atau Sabtu sore, kami harus pergi ke gereja. Beliaupun mengizinkan kami untuk tinggal disana.
Wis tinggal disini saja ora opo-opo….asal pintu dikunci dan jangan keluar malam” Demikian nasihat Ibu Guru kepada kami.
“Iya Bu, terima kasih banyak” Jawab kami dengan hati sumringah.
Setelah segala ketentuan dan perkenalan singkat tersebut selesai, kami diajak melihat-lihat keadaan sekitar sekolah oleh Ibu Guru Kembar. Mata saya tak terlepas dari beberapa putrid yang sedang membatik. Kami pun berpencar, menghampiri dan memperhatikan lebih dekat kegiatan membatik itu. Sesekali karena penasaran dan rasa kagum, kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswi yang sedang asyik memainkan cantingnya di atas kain, mungkin kami menggangu sedikit konsentrasinya.
Ibu Guru menjelaskan bahwa sudah banyak hasil karya batik mereka yang laku terjual dengan range harga mulai dari Rp. 250.000 – Rp. 1.000.000. Juga ada kegiatan keterampilan lainnya seperti menjahit, memasak, membuat kue, menyulam, musik tradisional marawis dan angklung. Wah..wah sungguh suatu prestasi yang membanggakan. Saya mendekati salah seorang putrid yang sedang memberikan “malam“ pada kain batiknya.
Lalu kami menuju ke dapur, disitu Ibu Guru memperlihatkan situasi memasak dengan kayu bakar. Nah, disitulah kami akan memasak setiap harinya dengan ditemani oleh murid-murid yang piket masak saat itu. Tak lama kemudian kami pun pamit pulang.

III. Hari Pertama Mengajar di PAUD




13323417081735598435
Hari ini, Rabu 14 Juni 2010 adalah hari pertama kami mengajar. Pagi-pagi benar kira-kira pkl. 04.19, kami berenam bergegas bangun, kemudian kami berdoa bersama sejenak dan mandi satu persatu. Selagi masih antri mandi, saya dan rekan yang lain turut membersihkan ruangan yang akan dipakai dalam proses KBM nanti. Hati saya sangat gembira hari ini, saya sudah tidak sabar bertemu murid-murid SDK dari kelas PAUD – SMA, lebih tepatnya saya juga penasaran terhadap metode pembelajaran dan kegiatan sehari-hari yang dilakukan murid-murid disini juga mengajar mereka membaca dan menulis.
Satu persatu anak-anak mulai berdatangan.
“Assalammualaikum…” Sahut salah seorang murid putrid.
“Waalaikumsallam..”Jawabku “Masuk dek…silahkan” Lanjutku lembut.
Dengan seragam putih-biru langitnya, anak itu tampak bersemangat untuk sekolah. Biasanya murid-murid yang datang lebih awal adalah mereka yang kedapatan jadwal piket masak. Lama-kelamaan seisi ruangan mulai penuh dengan murid-murid, merekapun nampaknya sibuk dengan aktivitas seperti mencari kayu, membersihkan meja dan lantai, menyiapkan tungku untuk masak, ada juga yang duduk diam sambil membaca-baca buku Saya terus memperhatikan aktivitas yang terjadi pagi itu. Sambil berkenalan dan mengajak bincang-bincang beberapa siswa putri, saya semakin ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang sekolah luar biasa ini.
Barulah kira-kira pkl. 07.00 Ibu Guru Kembar datang ke sekolah. Nampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan murid-murid disini, jika mendengar Ibu guru kembar sudah datang, maka ada yang menjemput ketempat parkiran yang biasa Ibu Guru Kembar singgahi. Mereka bersama-sama membawakan barang bawaan Ibu Guru yang sebagian besar adalah segala sesuatu yang menjadi keperluan sekolah, seperti bahan masak hari itu, susu, kacang ijo, tak lupa perlengkapan memasaknya kain batik yang belum selesai proses pembuatannya dsb.
Setelah mengucap salam kepada Ibu Guru Kembar, saya langsung bergegas menanyakan tugas yang harus saya lakukan pagi itu.
“Ibu..ada yang bisa saya Bantu?” Tanyaku sopan.
“Iya nak..hari ini siapa yang piket masak dan ke pasar ya?” Jawab Ibu Guru sambil mengeluarkan barang bawaannya.
Setelah kami berunding, kami sudah menentukan siapa yang akan piket masak hari itu.



133234181339144518

Saya pun mendapat tugas untuk pergi ke pasar Japat bersama Viki, salah seorang siswa kelas 4 SDK. Kamipun pergi ke pasar dengan riang, sambil menyusuri jalan raya, saya dan Viki bercerita tentang keseharian Viki di sekolah. Tak terasa berjalan sambil bercerita akhirnya sampai juga kami di pasar Japat. Kami langsung membeli bahan-bahan yang Ibu amanatkan, seperti bumbu jadi. Kangkung, kelapa parut dan sambelan, total belanja hari itu hanya Rp. 42.000 saja, karena Ibu telah mempersiapkan bahan lainnya dari rumah. Setelah itu kamipun bergegas pulang ke sekolah.
Saya meninggalkan ruangan kelas utama dan menuju ke kelas PAUD yang terletak di luar. Wah..wah jujur aku sangat prihatin melihat keadaan sekitar kelas PAUD yang kurang nyaman dipakai untuk belajar. Saat pertama mengajar, kebetulan musim hujan, jadi tanahnya becek dan banyak lubangnya. Kami semua belajar di bawah tenda sederhana atapnya terbuat dari terpal. Genangan airpun terlihat mencekung di atapnya. Lantainya hanya berupa semen-semen yang landai dan tidak rata. Genangan air hujan ada dimana-mana menempati lubang-lubang disekitarnya. Jadi anak-anak itu belajarnya miring-miring, posisinya sangat memprihatinkan. Sayang sekali kelas PAUD tidak bisa belajar di dalam, selain tempatnya agak sempit, anak-anak juga sering menangis sehingga membuat suasana belajar terganggu. Belum lagi jika anak yang tidak bisa lepas dari genggaman orangtuanya-sang ibu-memanggil-manggil ibunya untuk selalu didekatnya, hal itu adalah beberapa alasan yang menyebabkan kelas PAUD tidak bisa belajar di dalam kelas.
Kendati demikian, mereka tetap semangat belajar, apalagi kalau menyanyi bersama..ckckckckccck semangat 45!!! Dengan meja dan kursi untuk masing-masing murid, mereka bersukacita menyambut pelajaran hari itu.
Ety..ya dialah rekanku selama mengajar di PAUD. Ibu guru kembar telah mempercayakan Ety sejak lama untuk memegang kelas PAUD. Saya banyak belajar darinya. Saya selalu mempelajari bagaimana cara dia mengajar dan kegiatan apa saja yang berlangsung selama kelas dimulai. Ternyata sangat mengasikkan sekali. Sambil belajar dari Ety, saya mencoba menghafalkan nama murid-murid PAUD yang jumlahnya tidak terlalu banyak saai itu.
“Ya..anak-anak..sebelum kita mulai belajar mari kita ucapkan al-fatihah..”Itulah kata-kata super yang diucapkan Ety sebelum pelajaran dimulai
“Amiiinn..”Lanjutnya”
“Tangan ke atas..ke samping..ke depan..ucapkan selamat pagi kakak..”Tambahnya dengan suara nyaringnya yang khas.
“Selamat pagi kakak…”Seru murid-murid serentak.
Selagi Ety memimpin beberapa nyanyian seperti:Bapak Tani, Allah Saya Satu, Potong Bebek Angsa, Satu-satu Aku Sayang Alla, Pelangi-pelangi dll, saya mencoba menghafalkan nama-nama murid disini. Beberapa murid yang hadir saat itu dan yang saya hafal diluar kepala adalah : Adit, Abbas, Nova, Sisda, Saputra, Udin, Farhan, Adelia, Annis, Hanny, Irvine, Rodiah, dan Yopie. Selebihnya sedang tidak hadir saat itu. Dari semua murid, saya benar-benar dibuat tertawa oleh tingkah pola Udin, jika ia menyanyi, semangatnya paling luar biasa dari antara murid lainnya. Sungguh membuat orang lain yang melihatnya tertawa geli. Kagiatan setelah berdoa dan bernyanyi bersama adalah mengumpulkan PR. Tiap murid harus berbaris rapi dan meletakkan bukunya dengan benar untuk dinilai kemudian, setelah itu barulah saatnya kita semua belajar menulis angka dan huruf.





1332342118107895221Untuk kelas PAUD, Ibu Guru Kembar sudah memberikan mandat untuk mengajarkan huruf vokal terlebih dahulu yaitu: a, i, u, e, o dan angka 1-3 saja. Keputusan itu mutlak, karena Ibu Guru Kembar tahu betul mengenai psikologi anak. Menurut beliau anak seumur mereka harus diajar secara perlahan-lahan dan berulang-ulang, tidak bisa diajar langsung yang sulit-sulit. Selain itu, mereka juga diajarkan huruf arab dari angka 1-3 yang biasanya dipelajari dihari jumat. Karena setiap hari jumat seluruh kegiatan kelas dipusatkan pada pelajaran mengaji bersama. Baik dari kelas SD-SMA. Barulah pada penghujung waktu, mereka semua dibberikan PR yang harus dikumpulkan besok.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, kelas sebentar lagi akan berakhir. Biasanya sebelum pulang ke rumah masing-masing, para murid harus berbaris untuk mengambil susu atau kacang hijau yang sudah disiapkan oleh piket masak. 


13323423781453483229 






Ya beginilah kegiatan sehari-hari disini, setiap jam 09.00 murid PAUD selesai belajar dan harus antri mengambil jatah susu, sedangkan kelas SD-SMA juga mengantri sesudahnya. Bedanya, kelas SD-SMA juga diberi makan oleh Ibu Guru Kembar, akan tetapi mereka tidak langsung pulang seperti PAUD, melainkan pulang pada sore hari. Catatan penting disini adalah, mereka wajib membawa peralatan makan sendiri, jika tidak…hmmmmm jangan harap mereka boleh ikut makan. Hal ini dilakukan untuk memupuk kedislipinan dan kemandirian para murid. Demikianlah kegiatan makan bersama di Sekolah Darurat Kartini. Tak jarang juga, Ibu Guru Kembar membagikan sabun atau mie instan untuk tiap-tiap murid sebelum mereka pulang
Setelah kelas PAUD pulang, tugas saya telah selesai. Namun saya tidak berdiam diri saja, saya suka memperhatikan keadaan sekitar kelas dan suasana belajar-mengajar. Diam-diam saya mempelajari cara Ibu Guru Kembar dalam memberikan materi dan cara ia mengajar di kelas. Sungguh saya terkagum. Walau dalam sebuah celotehan yang kadang mengagetkan dan dalam bungkusan didikan keras melalui ucapan, tetapi terkandung cinta kasih kepada naradidiknya. Saya juga memperhatikan rekan-rekan mahasiswa lainnya yang sedang mengajar, kadangkala saya suka bergabung di bangku paling belakang guna mengingat pelajaran semasa SMP-SMA dulu.
Nah, inilah hal yang paling menarik, yaitu tatkala kami semua makan bersama Ibu Guru Kembar. Para mahasiswa yang magang beserta Ibu Guru Kembar makan setelah para murid dari SD_SMA selesai mengantri makan. Ibu Guru Kembar sendirilah yang menyidukkan nasi, sayur dan lauk-pauk kepada para murid yang berbaris rapi memanjang ke belakang itu. Dengan telaten dan sabar akhirnya antrian itu selesai sudah. Waktu makan bersama dengan Ibu Guru kembar kami isi juga dengan obrolan ringan seputar Sekolah Darurat Kartini, juga tak jarang Ibu Guru kembar menceritakan kisah-kisah menarik sepanjang perjalanan hidupnya. Sungguh suatu moment yang berharga. Saya banyak mengambil amanah hidup dari pengalaman, nasihat, dan ajaran beliau.
Beliau pernah menuturkan bahwa murid-murid disini semua memiliki keluarga yang bermasalah. Untuk itu diperlukan strategi khusus dalam mendidik dan menyelesaikan kasus-kasus yang diperhadapkan dengan mereka. Jadi penanganan terhadap murid-murid disini berbeda dengan penanganan untuk anak-anak pada umumnya, berkaitan dengan latar belakang kehidupan yang keras, sulit, dan liar membuat Ibu Guru Kembar juga harus sabar dan sering “mengurut dada” karena ulah murid-murid yang nakal. Di samping itu juga banyak murid-murid berprestasi, diantaranya yang pernah Ibu Guru ceritakan kepada kami adalah Nuris, Silvy, Sari, Aan dan Woro. Tentunya setiap murid disini memiliki kelebihan unik tersendiri, namun ada beberapa nama yang Ibu Guru sangat banggakan. Nama-nama yang disebutkan di atas nyatanya memiliki sejarah kebanggaan tersendiri untuk Ibu Guru. Adapula 2 orang murid kepercayaan yang tinggal bersama dengan Ibu Guru di rumahnya yang terletak di kelapa Gading, yaitu Yana dan Sari.
Selain itu ada pula beberapa siswi yang sudah mulai saya kenal mereka adalah, yaitu Fauziah, Ayu, Dina, Saripah, Nurmila, dan Tian. Memang saya belum menegenal mereka secara mendalam, tetapi sepintas mereka semua adalah anak baik dan berprestasi.
Ibu Guru juga sedikit menceritakan tentang keluarga dan cucu-cucunya. Ya, Ibu Guru memang seorang yang berada. Anak-cucu-menantu nyapun memiliki riwayat pendidikan yang mengagumkan. Ada yang kuliah di luar negeri dan sekolah di international school, sungguh suatu kesempatan dan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT kepada keluarga besar Ibu Guru Kembar. Amatlah berbeda dengan murid-murid yang bersekolah disini, rata-rata dari mereka orangtuanya kurang mampu. Sepengetahuan saya, ada yang ayahnya seorang pemulung, ada pula yang menganggur, juga tak sedikit yang single parent, walau demikian masih ada juga murid yang keluarganya tidak terlalu bermasalah dan ia termesuk kategori murid berprestasi.
Untuk itulah Ibu Guru selalu menekankan kepada para murid, agar selain rajin belajar, mereka juga harus rajin bekerja.
“Anak-anak itu harus kerja biar dapet duit untuk dirinya sendiri, tapi ndak boleh jadi penegmis” Seru Ibu Guru dengan tegas.
Ya itulah yang Ibu Guru selalu ingatkan agar mereka jangan meminta-minta, melainkan harus bekerja. Dengan cara apa? Bukan dengan mengeksploitasi tenaganya, melainkan dengan memberikan dasar-dasar keterampilan seperti membatik, menjahit, menyulam, membuat kue, menari, olahraga dsb. Nah dari situlah mereka nanti akan memperoleh upah dari apa yang sudah mereka usahakan. Menurut saya ini sangat membentu perekonomian mereka. Buktinya kalau batik mereka laku terjual, uangnya pun akan diberikanm kepada mereka, padahal kalau dipikir-pikir Ibu Guru lah yang memeberikan modal dan semua perlengkapan yang dibutuhkan.
IV. Ibu Guru Kembar
1332343257627627274
Ibu guru kembar” demikianlah orang-orang menyapa sang perintis Sekolah Darurat Kartini ini. Dimata saya Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih adalah kartini masa kini yang dengan pengorbanan serta ketulusannya mendidik dan mengajar murid-murid di lembaga pendidikan semiformal yang didirikan pada tahun 1996 ini. Perempuan kelahiran 4 Februari 1950 ini dengan tenang dan tulus memberikan banyak ilmu, kendati sekolah yang dirintisnya dalam satu dekade silam itu kerap terancam keberadannya. Saya bangga pada beliau-beliau ini. Sekalipun cara mendidik mereka tegas dan sangat disiplin, namun ada makna dibalik itu semua, ada cinta dari setiap amarah yang ditujukan pada naradidiknya. “Anak-anak disini harus diajarkan disiplin, ndak boleh sembarangan kayak di omahnya ndewe, kalo sekolah disini mesti ada aturannya.” Tukas Ibu Ros lagi-lagi dengan logat Jawa medoknya. Ya..memang begitulah cara mendidik Ibu guru kembar yang diadaptasi dari cara mendidik zaman Belanda. Agak keras aturannya namum baik hasilnya
Baik Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih tak pernah memperlihatkan kegelisahan dan masalah di depan murid-muridnya, mereka mencoba tetap bersikap tegar jika ada masalah yang menghadang. Itulah nilai plus dari Ibu guru kembar, yang selalu menyerahkan segala perkara pada Allah SWT. Sesuai dengan misi sekolah darurat ini yaitu turut mencerdaskan anak-anak bangsa, maka Ibu guru kembar selalu menegaskan bahwa tugas seorang pelajar adalah belajar. Selain itu juga harus terampil agar menghasilkan pendapatan. Maka dari itu, mereka mewariskan ilmu keterampilan seperti membatik, menjahit, menyulam,memasak, marawis dan angklung kepada murid-murid sekolah darurat. Agar selain pintar, juga memiliki keterampilan yang akan berguna di masa depan. Dari hal ini saya dapat melihat bahwasannya Ibu guru kembar sedang mempersiapkan mental interpreneurship melalui kegiatan keterampilan tersebut.
Ibu guru kembar selalu menekankan bahwa sekolah ini gratis, tanpa pemungutan biaya sekolah sepeserpun kepada orang tua. Setiap murid yang mau bersekolah ditempatnya, maka akan diberikan seragam putih-batik-biru langit dan perlengkapan sekolah lainnya sudah tersedia. Fasilitas keterampilan juga dapat meerka peroleh cuma-cuma di sekolah, jika mereka hendak membatik, marawisan , latihan angklung, bermain futsal dsb. Itulah mengapa beliau-beliau ini kerap mengeluarkan kocek pribadinya untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka. Berkenaan dengan misi sekolah ini, besar harapan Ibu guru kembar untuk melihat murid-muridnya kelak menjadi “orang” dan berguna bagi keluarga, masyarakat, juga bangsa. Beliau ingin naradidiknya ridak salah jalan dan menjadi “sampah masyarakat”.
Sekali lagi, siapa yang tidak bangga pada Ibu guru kembar? Dari Sekolah Darurat yang sederhana ini, beliau telah berhasil ‘meluluskan’ lebih dari 2.000 alumni sekolah darurat di berbagai kawasan Jakarta. Di antaranya ada yang menjadi polisi, perawat, keryawan swasta, kasir, pegawai bank, hingga pengusaha kecil. Sungguh prestasi luar biasa dan patut diteladani.
Tenaga pengajar utama di Sekolah Darurat Kartini tak lain adalah Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih sendiri. Hanya ada seorang tenaga pengajar khusus mata pelajaran B. Inggris saja yang turut membantu proses belajar. Itu juga setiap hari sabtu saja, Pak Warsito namanya. Selebihnya hanya beliau berdualah yang mengajar SD-SMA. Kelas PAUD biasanya dipegang oleh murid SMP yang sudah mendapat kepercayaan untuk mengajar, juga untuk mengaji biasanya murid-murid yang sudah SMA lah yang mengajar adik kelas lainnya.
Saya senang bisa ditempatkan oleh kampus untuk magang selama 1 bulan disini. Tatkala saya mendapat teguran dari Ibu guru kembar saya selalu mengucap syukur, karena masih ada yang mau menasihati saya. Banyak hal positif dari setiap nasihat Ibu guru kembar kepada saya juga teman-teman magang lainnya. Takkan pernah terlupakan dalam ingatan saya, jasa Ibu guru kembar yang begitu cantik parasnya. Saya jadi ingat suatu kutipan dan akan saya persembahkan untuk Ibu guru kembar….



V. Lingkungan Sekitar Sekolah Darurat Kartini



Namanya juga daerah pinggiran Jakarta, sudah pasti lingkungan sekitar Sekolah Darurat Kartini pun terlihat kumuh, kotor dan jauh dari kata higienis. Di depan sekolah ini, tampak sebuah lahan kosong -lebih tepatnya tanah berdebu yang tidak rata bentuknya- yang biasanya di pakai truk-truk container untuk parkir Kendaraaannya yang bermalam disana. Selain itu pemandangan lainnya adalah seoonggok tempat sampah basah yang bersebelahan dengan sumur, yang sumber airnya sudah tidak jernih lagi. Tak jauh dari situ juga terdapat empang yang sangat kotor dan mengeluarkan bau tidak sedap lagi. Wah..wah pokoknya lingkungan sekitar SDK sangat jauh dari kata “bersih”.
Tak sedikir rumah-rumah petak yang kecil dan semrawut membingkai kawasan sekolah ini. Saya sangat prihatin dengan rumah-rumah disekitarnya. Jaraknya antara rumah satu dengan yang lain saling tumpah tindih. Rasanya sangat tidak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Tapi berbeda dengan tanggapan warga yang tinggal disana, karena sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, maka adalah suatu hal yang lumrah, jika hidup harus bersentuhan dengan yang namanya “lingkungan kotor tak higienis” seperti itu. Karena dilingkungan seperti itulah mereka lahir, tumbuh, sekolah dan hidup dalam rentan waktu yang cukup lama, jadi tidak masalah bagi mereka.
Sedangkan di belakang sekolah ini, persis ada lintasan rel kereta api dua arah. Parahnya tidak ada bentuk peringatan apapun jika ada kereta yang lewat, jadi tak heran jika banyak cerita nyata tentang orang maupun hewan yang tertabrak kereta disekitar sana. Dari sana terdapat MCK dan rentetan rumah-rumah sederhana yang tumpang tindih



Jarak sekolah ini dengan lintasan rel hanya dibatasi oleh sebuah lahan kecil, yang dipenuhi dengan sampah dan kotoran manusia. Namun seiring berjalannya waktu, kami perlahan membersihkan lahan mungil di belakang sekolah kami, dan menanaminya dengan tumbuhan rempah-rempah. Lahan mungil ini hendaknya dapat menjadi kenangan tersendiri bagi seluruh murid SDK, agar tetap mengingatkan kami setelah kami pergi meninggalkan sekolah ini, bertepatan pula dengan berakhirnya masa magang kami.
Tetangga terdekat kami di sekitar SDK sangat ramah-ramah dan baik hati. Mama Iin… ya beliau dan keluarganya lah yang banyak membantu kami selama berada di sekolahan. Saya ingat betul, ketika saya sempat jatuh sakit karena diserang demam tinggi disertai dengan muntaber, Mama Iin mengerok punggung saya dan membantu saya untuk pergi berobat. Kiranya kebaikan beliau sekeluarga dapat dibalas oleh Tuhan YME. Tetangga lainnya juga sangat ramah kepada kami, tak jarang saya dengan rekan mahasiswa lain mengobrol bersama disore hari ketika sedang bersantai di depan halaman sekolah. Banyak hal yang menjadi bahan perbincangan dengan mereka, baik tentang lingkungan sekitar sana yang sangat rawan, tentang sekolah ini, keluarga mereka, anak-anak mereka yang sedang bersekolah di sekolah lain dll. Dari obrolan santai itu pula, saya mendapat banyak wawasan baru mengenai kehidupan yang keras dan liar ini, bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat menengah ke bawah, bagaimana mereka bekeeja keras mempertahankan hidup keluarganya dan bergelut dengan kemiskinan. Saya jadi ingat Ibu Guru Kembar pernah berkata, “ Saya selalu tekankan pada anak-anak disini, klo mereka lulus mesti kerja biar dapet duit terus beli omah ndewe! Jangan ngontrak kaya orang-orang sini..Lha wong status social itu penting. Punya rumah sendiri lebih baik lho” Begitulah nasihat Ibu Guru. Memang ada benarnya, saya pun punya cita-cita akan memiliki rumah pribadi yang layak huni dan membahagiakan seluruh keluarga besar saya. Ya itulah yang saya suka dari Ibu Guru…walau dalam celetukan santai pada sebuah obrolan ringan, tapi ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari setiap ucapannya. Terima kasih Ibu Guru…
Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan Ibu Guru Kembar, murid-murid Sekolah Darurat Kartini dengan berbagai macam karakter, juga warga sekitar SDk yang bersahabat, ramah dan mau membantu tetangga satu sama lain.
Semoga kehidupan mereka dekat dengan berkat dari Sang Maha Pencipta, bahagia selalu dan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi dari keadaan sekarang ini.
Tuhan memberkati kalian semua.
VI. Perpisahan Bukan Akhir Segalanya

13323435381243844737



Berat rasanya untuk meninggalkan sekolah ini. Bagaimana tidak? Setelah saya menghitung hari, ternyata tak lama lagi kami harus pergi meninggalkan sekolah tercinta ini. Waktu magang kami akan berakhir di tanggal 17 Juli 2010, dan kami harus berhadapan dengan mata kuliah yang sudah menanti di semester 5 ini. Sesungguhnya saya benci dengan perpisahan, rasanya sakit sekali. Apalagi saya sudah senang mengajar disini, namun hidup harus terus berjalan. Toh suatu saat nanti, ketika saya lulus dari STT Apostolos Jakarta, saya bias berkunjung ke sekolah ini lagi. Terlepas dari ikatan magang dari pihak kampus, saya sangat senang bias hadir dan merasakan hidup dengan lingkungan seperti ini, keras dan liar.
Ada pelajaran hidup yang membuka mata hati saya. Terutama dari kasus-kasus kehidupan murid-murid disini yang cukup mengerikan, yang tak lain sumber masalah biasanya ada pada orangtua mereka. Kiranya kita semua dapat mengambil hikmah dari setiap problematika kehidupan mereka, karena setiap orang hidup pasti memilki masalah, yang terpenting kembali kepada individu tersebut, sampai sebatas mana ia mampu menghadapi masalah itu dengan lapang dada dan tentunya berserah pada Sang Maha Kuasa.
Setiap moment yang sudah terlewatkan bersama keluarga besar Sekolah Darurat Kartini selalu terekam dalam ingatan saya. Biarlah hal tersebut menjadi kenangan tersendiri dalam hidup saya. Seperti event dari PT. Loreal bertajuk “Loreal Citizen Day” yang belum lama terselenggara di SDK. Dimana saya pernah ditugaskan menjadi pemimpin yel-yel untuk pertandingan futsal persahabatan antara SDK dengan PT. Loreal. Di event inilah SDK boleh unjuk kebolehannya dalam bidang olahraga yaitu futsal, bidang kesenian yaitu musik tradisional marawis dan angklung juga membatik. Selain itu pihak SDK juga mendapat pengetahuan tentang “beauty class” dan “hair cut









Dari event itulah timbuk keakraban lebih dalam lagi antara mahasiswa/I dan seluruh murid SDk sehingga kami semakin kompak saja. Sangat menyenangkan sekali, karena kami menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dengan berbagai kegiatan positif dan bermanfaat yang acaranya puncaknya berupa pertandingan futsal persahabatan antara tim Persaka dan tim PT. Loreal, dengan skor akhir 6-0 bagi tim Persaka.
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bimbingan dan kesempatan yang diberikan oleh Ibu Guru Kembar, juga kepada murid-murid SDK yang saya sayangi dan sudah saya anggap seperi adik saya sendiri. Semoga langkah kalian selalu disertai Tuhan YME,dan semangat serta cita-cita kalian takkan pernah pudar, melainkan semakin berkobar dan dapat menjadi berkat bagi diri sendiri, orang lain, keluarga, masyarakat juga bangsa dan Negara. Sukses selalu..maju terus pantang mundur menjalani hidup ini.