Senin, 23 Januari 2012

Sekolah Darurat Kartini

Tulisan ini sudah lama saya buat, juga versi cerpennya sekitar 2 tahun yang lalu.
Kalau yang ini adalah sebuah laporan singkat tentang Sekolah Darurat Kartini, tempat saya dan beberapa teman kampus melakukan praktek libur semester.
Selama 1 bulan lamanya dari 17 Juni -17 Juli 2010, kami bersentuhan dengan keajaiban di Sekolah ini.
Berikut laporannya:
Liputan Edukasi 
Nama   : Sekolah Darurat Kartini
Alamat : Pergudangan  Jakarta Gudang (PJKA)
                Kp. Bandan – Jakarta Utara
Pendiri   : Ibu Sri Kembar
                  (Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih)
Berdiri    : 1996  (Masih di bawah jembatan)
                                                                        

  • Sekolah Darurat Kartini  Turut Mencerdaskan Anak-anak Bangsa
         Jika kita berkunjung ke daerah Lodan Raya -Ancol, coba anda tanyakan saja tentang Sekolah Darurat Kartini Ibu Guru Kembar. Siapa yang tidak tahu Sekolah Darurat Kartini asuhan Ibu Sri kembar ini? Sekolah yang terletak di area pergudangan PJKA Kp. Bandan, Lodan-Ancol, Jakarta Timur ini memiliki sejuta cerita hidup penuh makna dengan balutan suka dan duka Bagaimana tidak? Tak terhitung sudah peluh yang harus dihadapi Ibu Sri Kembar sang perintis Sekolah Darurat Kartini tatkala pemerintah kota membongkar dan menggusur sekolah ini karena soal perizinan Belum lagi menghadapi tingkah pola murid-murid disini yang memilki background keluarga yang rata-rata bermasalah. Beliau pernah menuturkan bahwa murid-murid disini semua memiliki keluarga yang bermasalah. Untuk itu diperlukan strategi khusus dalam mendidik dan menyelesaikan kasus-kasus yang diperhadapkan dengan mereka. Jadi penanganan terhadap murid-murid disini berbeda dengan penanganan untuk anak-anak pada umumnya, berkaitan dengan latar belakang kehidupan yang keras, sulit, dan liar membuat Ibu Guru Kembar juga harus sabar dan sering “mengurut dada” karena ulah murid-murid yang nakal Walau bangunan sekolahnya hanya sebuah petak sederhana, dengan ruangan belajar berbentuk bangsal, namun murid-murid Sekolah Darurat Kartini (SDK) tetap semangat untuk pergi bersekolah. Sekolah sederhana yang lahir dari sebuah ekspektasi dan cita-cita  besar dari kedua Ibu kembar akan pengentasan kebodohan dan kemiskinan ini, telah banyak melahirkan tunas muda yang terampil, berdaya juang, pekerja keras, dan mandiri. Sesuai dengan motto “Turut Mencerdaskan Anak Bangsa” yang diberikan Ibu Sri kembar untuk sekolah ini, maka beliau kerap selalu menegaskan bahwa tugas seorang pelajar adalah belajar. Bagi Ibu Sri Kembar kemiskinan bukanlah hambatan untuk terus belajar menuntut ilmu, asal kita memiliki kemauan untuk belajar sungguh-sungguh dan ulet dalam bekerja keras, niscaya kita akan keluar dari kemiskinan, Beliau menegaskan bahwa anak-anak yang kurang beruntung itu harus tetap bersekolah. Saya tidak ingin bocah-bocah itu menjadi pelacur cilik atau manusia yang tidak berguna,” ujar Bu Rosi,. . “Pokoknya, saya akan terus mendampingi anak-anak itu sampai saya nggak ada lagi di dunia ini. Sebab, hati saya sudah tidak bisa dipisahkan dari anak-anak itu. Mereka sudah menjadi bagian dalama hidup saya.” Tambahnya.
·        Sejarah Sekolah Darurat Kartini
Sekolah Darurat Kartini merupakan lembaga semiformal yang didirikan pada tahun 1996 oleh sepasang ibu kembar yaitu Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih. Tak sulit untuk mancari lokasi sekolah darurat ini. Jika kita melintasi Tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara, sepanjang pemandangan perjalanan dari atas, akan terlihat jelas suasana kumuh di kolong jembatan. Tak jauh dari sana,  ada bangunan sederhana dengan dinding terbuat dari tripleks dan kayu lapuk dengan  luas kurang lebih 40 meter persegi. Itulah yang menjadi tempat belajar anak-anak gelandangan, pemulung, serta pengemis di ibukota Republik Indonesia pada awal sekolah ini berdiri.
Sempat saja sekolah ini hanya tinggal sejarah di Jakarta, karena pernah ketika itu saat tenggat waktu sudah ditetapkan yaitu tanggal 31 Agustus 2007, Pemkot Jakarta Utara berniat menutup sekolah khusus untuk anak-anak kaum miskin itu, lantaran Walikotanya tidak setuju ada sekolah di sekitar kolong jembatan itu. Ibu Sri kembar hanya bisa pasrah dan taat pada tata tertib pemerintah. Yang pasti, perjuangan beliau tak berhenti sampai disitu. Kedua Ibu guru kembar ini yakin bahwa mereka akan segera menemukan tempat yang tepat agar anak-anak yang bersekolah disini bisa terus belajar walaupun harus sambil bekerja membantu orangtuanya yang miskin.
Kekonsistenan Ibu Guru kembar dalam memajukan pendidikan bagi anak-anak kaum marginal ini patut diteladani, karena sejak awal didirikan, Ibu Sri kembar tidak memungut biaya sepersen pun dari anak-anak yang bersekolah disana. Perempuan kelahiran 4 Februari 1950 ini dengan tenang dan tulus memberikan banyak ilmu, kendati sekolah yang dirintisnya dalam satu dekade silam itu kerap terancam keberadannya. Mereka tidak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk membiayai segala keperluan yang dibutuhkan untuk sekolah kepada para murid disana.. Pada awal didirikannya hingga sekarang, sekolah ini terdiri dari siswa/i  kelas PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) – SMA. Semua kelas tersebut digabung menjadi satu ruangan dan diajar langsung oleh Ibu Sri Kembar. Saat pertama kali berdiri, bukan bangunan megah layaknya sebuah sekolah pada umumnya yang kita jumpai disana, melainkan sebuah tenda sederhana pada lahan sempit di bawah kolong jembatan areal kawasan kumuh Jakarta lah yang memagari lingkungan sekolah darurat tersebut.
Disanalah murid-murid  yang berasal dari keluarga tidak mampu berkumpul untuk belajar menuntut ilmu disekolah darurat ini. Namun seiring berjalannya waktu, atas ketelatenan dan sentuhan cinta dari Ibu Sri Kembar serta bantuan dari berbagai pihak tertentu, bangunan sekolah darurat ini pun lebih layak dikatakan sebagai sekolah. Tembok-tembok tegap di samping rel lintasan kereta api berdiri membingkai bangunan sekolah darurat sederhana ini. Walaupun keadaan belajar di kelas sangat berisik, lantaran kelas PAUD – SMA digabung bersama, dan suara kereta api yang kerap mengagetkan murid-murid yang sedang belajar, serta gumulan asap tungku  dapur yang memenuhi ruangan kelas saat piket masak mengolah makanan didapur sederhana yang berada ditengah-tengah kelas (menjorok ke dalam).
·   Mempersiapkan Mental Interpreneursip Melalui Kegiatan Menyulam dan Membatik
                                        Jika kita memperhatikan palang sederhana sekolah ini yang bertuliskan :

“ SEKOLAH DARURAT KARTINI
PAUD, TK, SD, SMP & SMA
SEKOLAH KETERAMPILAN (GRATIS)
           Jelas bahwa sekolah ini juga mengedepankan sisi keterampilan guna membantu perekonomian keluarga murid-murid yang bersekolah disana . Walaupun anak-anak yang bersekolah disini berasal dari keluarga miskin namun Ibu Guru Kembar melarang keras mereka untuk mengemis. Untuk itulah Ibu Guru kembar berusaha mewadahi bakat dan talenta anak-anak di bidang keterampilan Ya itulah yang Ibu Guru selalu ingatkan agar mereka jangan meminta-minta, melainkan harus bekerja. Dengan cara apa? Bukan dengan mengeksploitasi tenaganya, tetapi dengan memberikan dasar-dasar keterampilan seperti membatik, menjahit, menyulam, membuat kue, menari, olahraga dsb. Nah dari situlah mereka nanti akan memperoleh upah dari apa yang sudah mereka usahakan. Menurut saya ini sangat membentu perekonomian mereka. Buktinya kalau batik mereka laku terjual, uangnya pun akan diberikanm kepada mereka, padahal kalau dipikir-pikir Ibu Guru lah yang memberikan modal dan semua perlengkapan yang dibutuhkan. 

Hasil dana dari penjualan batik ini langsung diberikan kepada anak yang membuatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar