Kalau yang ini adalah sebuah laporan singkat tentang Sekolah Darurat Kartini, tempat saya dan beberapa teman kampus melakukan praktek libur semester.
Selama 1 bulan lamanya dari 17 Juni -17 Juli 2010, kami bersentuhan dengan keajaiban di Sekolah ini.
Berikut laporannya:
Liputan
Edukasi
Nama : Sekolah Darurat
Kartini
Alamat : Pergudangan Jakarta Gudang (PJKA)
Kp. Bandan – Jakarta Utara
Pendiri : Ibu Sri Kembar
(Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih)
Berdiri : 1996 (Masih di bawah jembatan)
- Sekolah Darurat Kartini Turut Mencerdaskan Anak-anak Bangsa
Jika
kita berkunjung ke daerah Lodan Raya -Ancol, coba anda tanyakan saja tentang
Sekolah Darurat Kartini Ibu Guru Kembar. Siapa yang tidak tahu Sekolah Darurat
Kartini asuhan Ibu Sri kembar ini? Sekolah yang terletak di area pergudangan
PJKA Kp. Bandan, Lodan-Ancol, Jakarta Timur ini memiliki sejuta cerita hidup
penuh makna dengan balutan suka dan duka Bagaimana tidak? Tak terhitung sudah peluh
yang harus dihadapi Ibu Sri Kembar sang perintis Sekolah Darurat Kartini tatkala
pemerintah kota
membongkar dan menggusur sekolah ini karena soal perizinan Belum lagi
menghadapi tingkah pola murid-murid disini yang memilki background
keluarga yang rata-rata bermasalah. Beliau pernah menuturkan bahwa murid-murid
disini semua memiliki keluarga yang bermasalah. Untuk itu diperlukan strategi
khusus dalam mendidik dan menyelesaikan kasus-kasus yang diperhadapkan dengan
mereka. Jadi penanganan terhadap murid-murid disini berbeda dengan penanganan
untuk anak-anak pada umumnya, berkaitan dengan latar belakang kehidupan yang
keras, sulit, dan liar membuat Ibu Guru Kembar juga harus sabar dan sering
“mengurut dada” karena ulah murid-murid yang nakal Walau bangunan sekolahnya
hanya sebuah petak sederhana, dengan ruangan belajar berbentuk bangsal, namun
murid-murid Sekolah Darurat Kartini (SDK) tetap semangat untuk pergi
bersekolah. Sekolah sederhana yang lahir dari sebuah ekspektasi dan cita-cita besar dari kedua Ibu kembar akan pengentasan
kebodohan dan kemiskinan ini, telah banyak melahirkan tunas muda yang terampil,
berdaya juang, pekerja keras, dan mandiri. Sesuai dengan motto “Turut Mencerdaskan Anak Bangsa” yang
diberikan Ibu Sri kembar untuk sekolah ini, maka beliau kerap selalu menegaskan
bahwa tugas seorang pelajar adalah belajar. Bagi Ibu Sri Kembar kemiskinan
bukanlah hambatan untuk terus belajar menuntut ilmu, asal kita memiliki kemauan
untuk belajar sungguh-sungguh dan ulet dalam bekerja keras, niscaya kita akan
keluar dari kemiskinan, Beliau menegaskan bahwa anak-anak yang kurang beruntung
itu harus tetap bersekolah. Saya
tidak ingin bocah-bocah itu menjadi pelacur cilik atau manusia yang tidak
berguna,” ujar Bu Rosi,. . “Pokoknya,
saya akan terus mendampingi anak-anak itu sampai saya nggak ada lagi di dunia
ini. Sebab, hati saya sudah tidak bisa dipisahkan dari anak-anak itu. Mereka sudah
menjadi bagian dalama hidup saya.” Tambahnya.
·
Sejarah Sekolah Darurat Kartini
Sekolah Darurat Kartini merupakan lembaga
semiformal yang didirikan pada tahun 1996 oleh sepasang ibu kembar yaitu Ibu
Sri Rosiati dan Sri Irianingsih. Tak sulit untuk mancari lokasi sekolah darurat
ini. Jika kita melintasi Tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara, sepanjang
pemandangan perjalanan dari atas, akan terlihat jelas suasana kumuh di kolong
jembatan. Tak jauh dari sana , ada bangunan sederhana dengan dinding terbuat
dari tripleks dan kayu lapuk dengan luas
kurang lebih 40 meter persegi. Itulah yang menjadi tempat belajar anak-anak
gelandangan, pemulung, serta pengemis di ibukota Republik Indonesia pada awal sekolah ini
berdiri.
Sempat saja sekolah ini hanya tinggal
sejarah di Jakarta, karena pernah ketika itu saat tenggat waktu sudah
ditetapkan yaitu tanggal 31 Agustus 2007, Pemkot Jakarta Utara berniat menutup
sekolah khusus untuk anak-anak kaum miskin itu, lantaran Walikotanya tidak
setuju ada sekolah di sekitar kolong jembatan itu. Ibu Sri kembar hanya bisa
pasrah dan taat pada tata tertib pemerintah. Yang pasti, perjuangan beliau tak
berhenti sampai disitu. Kedua Ibu guru kembar ini yakin bahwa mereka akan
segera menemukan tempat yang tepat agar anak-anak yang bersekolah disini bisa
terus belajar walaupun harus sambil bekerja membantu orangtuanya yang miskin.
Kekonsistenan Ibu Guru kembar dalam
memajukan pendidikan bagi anak-anak kaum marginal ini patut diteladani, karena sejak
awal didirikan, Ibu Sri kembar tidak memungut biaya sepersen pun dari anak-anak
yang bersekolah disana. Perempuan
kelahiran 4 Februari 1950 ini dengan tenang dan tulus memberikan banyak ilmu,
kendati sekolah yang dirintisnya dalam satu dekade silam itu kerap terancam
keberadannya. Mereka tidak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk membiayai
segala keperluan yang dibutuhkan untuk sekolah kepada para murid disana.. Pada
awal didirikannya hingga sekarang, sekolah ini terdiri dari siswa/i kelas PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) – SMA.
Semua kelas tersebut digabung menjadi satu ruangan dan diajar langsung oleh Ibu
Sri Kembar. Saat pertama kali berdiri, bukan bangunan megah layaknya sebuah
sekolah pada umumnya yang kita jumpai disana, melainkan sebuah tenda sederhana
pada lahan sempit di bawah kolong jembatan areal kawasan kumuh Jakarta lah yang memagari lingkungan sekolah
darurat tersebut.
Disanalah murid-murid yang berasal dari keluarga tidak mampu berkumpul
untuk belajar menuntut ilmu disekolah darurat ini. Namun seiring berjalannya
waktu, atas ketelatenan dan sentuhan cinta dari Ibu Sri Kembar serta bantuan
dari berbagai pihak tertentu, bangunan sekolah darurat ini pun lebih layak
dikatakan sebagai sekolah. Tembok-tembok tegap di samping rel lintasan kereta
api berdiri membingkai bangunan sekolah darurat sederhana ini. Walaupun keadaan
belajar di kelas sangat berisik, lantaran kelas PAUD – SMA digabung bersama,
dan suara kereta api yang kerap mengagetkan murid-murid yang sedang belajar,
serta gumulan asap tungku dapur yang
memenuhi ruangan kelas saat piket masak mengolah makanan didapur sederhana yang
berada ditengah-tengah kelas (menjorok ke dalam).
· Mempersiapkan Mental Interpreneursip Melalui Kegiatan Menyulam dan Membatik
Jika kita memperhatikan palang
sederhana sekolah ini yang bertuliskan :
“ SEKOLAH DARURAT KARTINI
PAUD, TK , SD , SMP
& SMA
SEKOLAH KETERAMPILAN (GRATIS)
Jelas
bahwa sekolah ini juga mengedepankan sisi keterampilan guna membantu
perekonomian keluarga murid-murid yang bersekolah disana . Walaupun anak-anak
yang bersekolah disini berasal dari keluarga miskin namun Ibu Guru Kembar
melarang keras mereka untuk mengemis. Untuk itulah Ibu Guru kembar berusaha
mewadahi bakat dan talenta anak-anak di bidang keterampilan Ya itulah yang Ibu
Guru selalu ingatkan agar mereka jangan meminta-minta, melainkan harus bekerja.
Dengan cara apa? Bukan dengan mengeksploitasi tenaganya, tetapi dengan
memberikan dasar-dasar keterampilan seperti membatik, menjahit, menyulam,
membuat kue, menari, olahraga dsb. Nah dari situlah mereka nanti akan
memperoleh upah dari apa yang sudah mereka usahakan. Menurut saya ini sangat
membentu perekonomian mereka. Buktinya kalau batik mereka laku terjual, uangnya
pun akan diberikanm kepada mereka, padahal kalau dipikir-pikir Ibu Guru lah
yang memberikan modal dan semua perlengkapan yang dibutuhkan.
Hasil dana dari
penjualan batik ini langsung diberikan kepada anak yang membuatnya







Tidak ada komentar:
Posting Komentar