I. PERJALANAN SURVEI KE SEKOLAH DARURAT KARTINI
Tepat
pukul satu siang, saya, Idam, Trecy, Murni dan Ebeny tiba di sekolah
itu. Sebuah palang nama sederhana dari triplek yang bertuliskan,
“SEKOLAH DARURAT KARTINI PAUD, TK, SD, SMP & SMA SEKOLAH
KETERAMPILAN (GRATIS)” menjadi saksi bisu sukacita yang
kami rasakan setelah bergelut selama berjam-jam dengan tajamnya terik
matahari, antrian panjang dan suasana berdesakan di TransJakarta.
Perjalanan melelahkan itu terbayar sudah. Saya terhentak sejenak di
depan palang nama itu, saya pegang papan nama itu dan tersenyum kecil.
Senyum yang saya rasa kurang cukup untuk mewakili rasa bangga pada
sekolah ini. Decak tawa anak-anak. Terdengar suara lantang dua orang
wanita baya yang sedang mengajar mampir ditelinga. Ahh..rasanya tak
sabar ingin masuk ke dalam ruangan kelas itu.
Sambil
berjalan, saya terbayang perjalanan awal kami dari asrama kampus hingga
tiba di depan sekolah ini. Sekolah darurat yang berisi orang-orang
dengan prinsip dan nilai hidup kokoh , yang terus berjuang dengan daya
kreatifitas dan kejujuran menghadapi arus dunia yang kejam dan liar ini.
Ya..hari ini takkan terlupakan begitu saja, Senin 17 Mei 2010, saya, Idam, Trecy, Murni dan Benny - seharusnya satu kawan kami juga ikut, Risty namanya, tapi dia berhalangan datang- melakukan survey ketempat
magang kami dibulan Juni nanti. Kalau lihat penanggalan bulan ini kami
sudah memasuki libur semester 4. Kampus kami sudah membuat program untuk
mahasiswa angkatan X yang berjumlah hanya 8 orang. Tak usah heran
dengan kuantitas mahasiswa yang minim dari STT Apostolos ini, karena
kampus kami memang merekrut mahasiswa/i dalam kuantitas kecil. Itu juga
direkrut dari daerah-daerah tertentu seperti, Nias, Salatiga dan Manado.
Enam orang dari kami akan ditugaskan magang di Sekolah Darurat Kartini
Ancol dan dua orang lagi di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selama 1
bulan lamanya. Sedangkan adik tingkat kami yang juga berjumlah 8 orang
itu –angkatan XI- akan magang di kompartemen STT Apostolos Jakarta.
Ketika
itu, pagi-pagi benar kami bersiap dari asrama. Kebetulan saya piket
masak, jadi saya bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan pagi dan
siang bersama dua orang adik tingkat yang paling saya sayangi, Tety dan
Ida juga satu lagi Titin namanya.
“Eee Kade…
-itu adalah sebuah panggilan karib dari sahabat-sahabat saya di asrama-
“Kalian mau survey tempat magang ya? Jangan lupa oleh-oleh ya..heheheeee”, pintanya dengan tawa khas yang tersungging dibibirnya.
Tety…ya
Tety.. dialah adik tingkat yang paling kukasihi, hanya kami yang tidak
berasal dari Nias di asrama putri, selebihnya 6 orang dari kami adalah
warga Nias.
“Heheeee..kak Anita lagi bokek neh dek, tar ya minggu depan aja aku traktir kalo kiriman udah datang” seruku,
“yang
penting kamu doakan kita supaya survey tempatnya lancar-lancar aja, ok
coy? Lanjutku sambil menyolek perutnya yang sedikit membucit itu.
Hmmm..tahukah
betapa bersemangatnya saya untuk melakukan perjalanan nanti, terlepas
dari anggapan orang-orang bahwa hari senin adalah “hari macet sedunia”,
saya tak peduli, walaupun nanti kena macet, semoga saja aku ga mabok selama perjalanan. Kami mengawali perjalanan kami dengan naik bus 70, bus yang sudah terkenal ektsra ngebut di
daerah Blok M - Joglo ini melesat dengan kecepatan 100km/jam, cepat
sekali bukan? Hhuuuft….kalau saja saya tak pegangan kuat, mungkin saja
saya akan terlempar dari kursi belakang,
hhmm…
maklumlah itu adalah tempat favorit saya kalau berpergian dengan bus
manapun. Kami turun di halte Medika Permata Hijau, setelah 10 menit
menanti akhirnya busway pun datang.
Ya..ya..ya…
tak salah kata orang-orang itu kalau Senin adalah hari macet sedunia,
rasanya begitu lama perjalanan ke halte Harmoni. Jika membayangkan dari
Harmoni kita masih harus masih ke Ancol dan menghadapi situasi macet
seperti ini, sayaingin kembali ke asrama dan bersantai saja.
Hmmm… tapi saya langsung teringat pada sekolah darurat itu.
Saya ingin berjumpa dengan anak-anak yang bersekolah gratis disana.
Ibu
Sri kembar… ya nama itu yang juga membangkitkan gairah saya untuk
melawan kepenatan macet yang membelenggu pikiran dengan keluhan selama
diperjalanan.
Sosok yang belum pernah ku kenal, namun pasti akan segera kukenal, sepasang ibu kembar yang mempunyai jiwa luar biasa untuk membangun sekolah ini.
Ah..kalau untuk beliau nantilah saya jelaskan tersendiri, yang pasti semangat ini langsung menyala kembali.
Setelah sekian lama berdesak-desakan di busway akhirnya kami tiba juga di halte Ancol. Fiiuhh…perut saya sudah mulai keroncongan, pantas saja saya lapar karena saat melongok jam
tangan ternyata memang sudah waktunya makan siang. Kami memutuskan
untuk duduk santai di sekitar jembatan Ancol-Lodan, karena amanat dari
kampus, kita harus menghubungi Ibu Sri sesampainya di Ancol, untuk
pengarahan selanjutnya menuju Sekolah Darurat itu. Sambil mencoba
menghubungi Ibu Sri kembar yang sejak tadi hpnya mailbox terus, kami beristirahat di tempat duduk tukang ketoprak dan mie ayam.
“Guys..hp Bu Sri mailbox terus
neh, sambil nunggu kita makan dulu aja yuk..gimana? oke? Aku pesenin
ya?” sahut saya sambil berkutat dengan hp untuk menghubungi Ibu Sri.
“Siippp..atur Kade, Idam mau pesen mie ayam ama ketoprak akh…” seru Idam bersemangat.
“Hah..kamu
pesen dua dam,,ckckckc, ga salah? Si Benny aja yang cowok cuma pesen
satu..mantaff dech kau Dam, perut kadut..hhihihii”, sindir saya sambil
tersenyum kecil.
Begitu juga dengan Trecy, Murni dan Benny yang
juga memesan makanan disana. Hemmm..suapan pertama benar-benar saya
nikmati, walaupun ditemani pemandangan yang sangat kacau dari genangan
air di sekitar Ancol, yang kini berubah warna menjadi ijo limut serta
mengeluarkan bau yang anyir dan amis, saya tetap bersyukur.
“Toh
selama sebulan nanti saya akan bergelut dan bersentuhan dengan duia
yang 180 derajat berbeda dari sehari-hari di asrama, maka saya harus
menyesuaikan diri dengan situasi kotor, bau dan jorok
seperti ini, sekalipun ketika sedang makan”, sahut saya dalam hati,
sambil melihat baligo Dufan yang mempromosikan wahana baru.
Wah
betapa inginnya saya kesana dengan anak-anak jalanan yang kurang
beruntung itu. Semoga kelak saya mempunyai rezeki cukup, dan dapat
berbagi keceriaan bersama anak-anak dari Sekolah darurat Kartini itu.
Amin.
“Heeerrggkkk…”, sendawa Trecy memecah lamunan saya untuk mengajak murid-murid SDK ke Dufan, “Uppsss..sorry friend ga sengaja” tukasnya sambil tertawa malu.
Saya
langsung teringat kembali untuk menghubungi Ibu Sri, mengenai
kelanjutan perjalanan kami. Singkat cerita, kami pun naik bajaj dari WTC
Mangga Dua menuju Carefour Express Lodan. Sebelumnya kami melakukan tawar-menawar yang berlangsung alot
dengan beberapa bajaj, sampai akhirnya kami menghetikan bajaj ketiga
yang sepakat memberi harga 20 ribu. Itu juga setelah kami rayu
sedemikian rupa.
“Ah,,tapi aku gimana?”, seru Benny dengan kening yang mengerut,
karena ia takut kalau-kalau dipangku kami para perempuan.
“Hahahahaaaa …..yaelah Ben, tenang aja napa, tar kamu duduk aja di atas besi deket supir”, jawabku sambil berkata setengah tertawa.
Lucu
juga membayangkan satu bajaj yang sempit itu ditunggangi oleh 5 orang
manusia, padahal kapasitas bajaj maximal 3 orang. Apalagi Benny adalah
satu-satunya laki-laki yang bergabung dalam tim magang kami. Dengan
segera benny menjawab,
“Ah ga mau Aku..masa Aku nungging sih?”, seru Benny dengan wajah memelas.
“Ya sudah kalo ga mau, kau tinggal disini saja! Jangan jadi bencong kau Ben!”
Ekspresi
kekesalan Trecy memuncak, karena ia risih mendengar sepanjang
perjalanan dari asrama, Benny seringkali mengeluh. Begitulah Trecy,
walau tubuhnya paling mini diantara kami, tapi kalau sudah marah,,hhmmm
makiannya bisa bikin sakit hati stadium 5, heheheee. …Tapi biar bagitu
ia adalah sosok yang setia kawan dan peduli dengan keadaan
teman-temannya. Akhirnya Benny pun setuju untuk naik bajaj bersama kami.
Dalam keadaan sunburnt
bajaj yang kami tumpangi mengendara dengan suara cemprengnya,
menyelinap celah-celah kecil yang masih bisa dijangkau. Saat itu, macet
tak terelakkan, rasa haus, capek, mual, panas, lapar semuanya campur
jadi satu. Berlima di dalam sebuah bajaj membuat keadaan semakin sumpek,
dalam keadaan seperti itu, Trecy memainkan sains of humor nya, hal itu cukup membuat kami terhibur. Setelah melewati kemacetan luar biasa itu, akhirnya kami tiba di Carefour Express Lodan.
Sesuai instruksi dari Ibu kembar Sri, kami harus menyusuri jalan Lodan Raya dan -dengan pemandangan kemacetan disisi kanan-kiri jalan- rel kereta di daerah sana. Kami pun menyebrang dari arah Carefour Express
Lodan dan menelusuri jalan setapak, kami berjalan dan terus berjalan,
sampai menemukan rel kereta yang dikatakan Ibu Sri tadi. Ingin sekali
kami menengguk segelas air dingin untuk menghilangkan dahaga kami yang
membara, namun keinginan itu kami tangguhkan.
Yang
ada dipikiran saya saat itu adalah segera bertemu dengan anak-anak
Sekolah Darurat Kartini dan melihat interaksi yang berlangsung disana.
Setelah sekitar 1 km kami berjalan, akhirnya kami menemukan rel kereta
yang menjadi patokan menuju sekolah itu.
“Heheheeee..Soaya ijalala kereta api”, ucap Idam dalam bahasa Nias, yang artinya “ ya Tuhan…itu dia rel kereta apinya”
“Yup..akhirnya
sampai juga kita di rel yang dibilang Bu Sri, aku telpon dia dulu ya.”
Lalu sambil menunggu di warung kelontong dekat rel, saya menelpon Bu Sri
kembar.
“Tuuut…tuuttt..tuuuttt……”
“Halo Assalammualaikum”, suara lantang Bu Sri menjawab telponku
“Ya
halo..Wa’laikummsalam Bu..Saya dan kawan-kawan sudah sampai di rel
kereta api neh, lalu kita harus kemana lagi ya Bu?” Tanyaku bersemangat
“Oh ya..ya..ya.. tunggu saja disana, nanti anak Ibu yang jemput kamu yo!” Jawab Bu Sri dengan logat Jawa medok.
“Ok Bu Saya tunggu disini ya, patokannya di jembatan Bandan ya Bu, terima kasih ya Bu”
Perjalanan kami sudah semakin dekat. Hal itu membuat kami semakin bersemangat lebih lagi. Sambil
menyusuri lintasan rel kereta api yang rawan karena tidak ada
pengamanan disekitarnya, kami mengabadikan perjalanan kami menyusuri rel
kereta dengan video yang ada di kamera. Walau rasa lelah, tapi kami
tidak mau mengeluh, karena kami sangat bahagia bisa ditempatkan di
Sekolah Darurat Ibu Kembar Sri ini.
Pada akhirnya, sampailah kami di Sekolah Darurat Kartini.
Terima kasih Tuhan sudah menyertai perjalanan ini….
II. KALI PERTAMA KUJATUH HATI DENGAN
SEKOLAH DARURAT KARTINI
Begitu
banyak keajaiban yang saya temukan di Sekolah Darurat Kartini ini.
Tatkala Ibu guru kembar mempersilahkan kami masuk, disitulah kali
pertama saya injakkan kaki ke dalam ruangan kelas sekolah petak yang
berada di tengah perkampungan kumuh, tak jauh dari jembatan layang ini,
ada suatu getaran hati yang unik di sanubari. Rasanya terenyuh sekali,
sulit saya menggambarkannya. Saat itu, saya melihat ada banyak murid
yang sedang belajar, jumlah mereka kira-kira 80 anak, itupun campuran
dari siswa SD-SMA, ya.. beginilah keadaannya…bentuknya bangsal. Seragam
putih-biru langit yang mereka kenakan menambah semarak warna cerah di
ruangan yang kira-kira berukuran itu. Saya terus memperhatikan keadaan
di dalam kelas. Ada 13 baris meja yang setiap barisnya terdiri dari lima
buah meja dengan masing-masing 2-3 kursi, jadi totalnya sekitar ada 65
meja dan 130 buah kursi. Di depan kelas juga tersedia lima buah whiteboard
roda yang praktis untuk dipindahkan kemana saja. Tak jauh dari situ
juga tersedia dua buah rak buku kayu yang berisi buku-buku paket
pelajaran dari SD-SMA.
“Ayo-ayo
Nak…Silahkan duduk!” Seru Ibu guru kembar kepada kami, sambil
mempersilahkan kami duduk disebuah kursi kayu yang unik bentuknya.
“Iya Bu, terima kasih…” Aku menjawab dengan tersenyum, “Kursinya unik ya Bu?Bagus..”Tanyaku
“Oh..La
iya..Ini buatan murid-murid disini, mereka buat dari kayu-kayu rel
kereta” Jawab Ibu guru kembar dengan logat Jawanya yang medok
Dengan
ekspresi terkagum perhatian saya teralih oleh kegiatan membatik yang
dilakukan beberapa murid putri Sekolah Darurat Kartini.
“Wah ada kegiatan membatik juga ya Bu?” Tanya saya dengan pandangan yang tak lepas dari murid-murid yang sedang membatik.
“Oh jelas..La iya…” Seru Ibu Guru,
“Sudah
banyak hasil karya mereka dan laku terjual dengan harga yang tinggi,
anak-anak disini tarampil semua, jago-jago membatik dan keterampilan
lainnya”. Tambahnya.
Selain
itu saya juga melihat ada peralatan marawis disudut tembok, sudah dapat
dipastikan bahwa murid-murid disini juga mahir memainkan musik
tradisional marawis itu.
Kami
pun terlibat pada suatu percakapan perkenalan singkat dengan Ibu Guru
kembar. Hal yang pertama kami lakukan adalah memberikan surat keterangan
dari kampus. Perlahan Ibu Guru Kembar membukanya, lalu ia meminta kami
memperkenalkan diri masing-masing. Tak lama kemudian beliau langsung
membagikan tugas mengajar kita semua, yang pasti kami hanya boleh
mengajar kelas PAUD yang tak lain dipegang oleh saya dengan rekan saya
dari SDK yaitu Ety, TK dan SD, sedangkan SMP dan SMA dipegang langsung
oleh Ibu Guru Kembar.
Sambil
mencatat pembagian kelas tersebut, kami memperhatikan betul peraturan
yang diberikan oleh Ibu Guru kembar kepada kami seperti memasak bersama
murid setiap harinya, harus memakai kemeja, celana bahan dan bukan
jeans, tidak membawa unsur agama dalam mengajar –karena ini sekolah yang
sifatnya umum-, menjaga nama baik sekolah dsb. Setelah itu kami masih
bercakap-cakap mengenai sekolah ini juga profil singkat Ibu Guru Kembar.
Baru saya tahu kalau beliau-beliau ini adalah seorang janda. Mereka
sungguh terlihat tangguh, penuh pengorbanan dan kesetiaan, mendirikan
sekolah ini dan mengajar sendiri naradidik disini, tanpa pemungutan
biaya sekolah dan tenaga pengajar dari luar. Kalaupun ada hanya satu
orang guru B. Inggris laki-laki yang bernama Pak Mursito, beliau
mengajar setiap hari sabtu saja, selebihnya ya hanya Bu Guru sajalah
yang me-manage seluruh kegiatan di sekolah ini.
Percakapan
berlanjut pada persoalan tempat tinggal kami selama magang di sekolah
ini, saya dan rekan-rekan memang berencana untuk kost selama sebulan ke
depan, karena pihak kampus menyampaikan informasi bahwa kita tidak bisa
mengandalkan pihak Sekolah darurat Kartini untuk penyediaan tempat
tinggal kami. Setelah hal itu kami utarakan kepada Ibu Guru, ternyata
diluar dugaan kami, beliau menawarkan kepada kami untuk tinggal di
sekolah jika kami mau. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan, kamipun
menyambut gembira tawaran beliau. Akhirnya kami sepakat
untuk tinggal di sekolah ini dengan catatan setiap hari Mingggu pagi
atau Sabtu sore, kami harus pergi ke gereja. Beliaupun mengizinkan kami
untuk tinggal disana.
“Wis tinggal disini saja ora opo-opo….asal pintu dikunci dan jangan keluar malam” Demikian nasihat Ibu Guru kepada kami.
“Iya Bu, terima kasih banyak” Jawab kami dengan hati sumringah.
Setelah
segala ketentuan dan perkenalan singkat tersebut selesai, kami diajak
melihat-lihat keadaan sekitar sekolah oleh Ibu Guru Kembar. Mata saya
tak terlepas dari beberapa putrid yang sedang membatik. Kami pun
berpencar, menghampiri dan memperhatikan lebih dekat kegiatan membatik
itu. Sesekali karena penasaran dan rasa kagum, kami mengajukan beberapa
pertanyaan kepada siswi yang sedang asyik memainkan cantingnya di atas
kain, mungkin kami menggangu sedikit konsentrasinya.
Ibu Guru menjelaskan bahwa sudah banyak hasil karya batik mereka yang laku terjual dengan range
harga mulai dari Rp. 250.000 – Rp. 1.000.000. Juga ada kegiatan
keterampilan lainnya seperti menjahit, memasak, membuat kue, menyulam,
musik tradisional marawis dan angklung. Wah..wah sungguh suatu prestasi
yang membanggakan. Saya mendekati salah seorang putrid yang sedang
memberikan “malam“ pada kain batiknya.
Lalu
kami menuju ke dapur, disitu Ibu Guru memperlihatkan situasi memasak
dengan kayu bakar. Nah, disitulah kami akan memasak setiap harinya
dengan ditemani oleh murid-murid yang piket masak saat itu. Tak lama
kemudian kami pun pamit pulang.
III. Hari Pertama Mengajar di PAUD
Hari
ini, Rabu 14 Juni 2010 adalah hari pertama kami mengajar. Pagi-pagi
benar kira-kira pkl. 04.19, kami berenam bergegas bangun, kemudian kami
berdoa bersama sejenak dan mandi satu persatu. Selagi masih antri mandi,
saya dan rekan yang lain turut membersihkan ruangan yang akan dipakai
dalam proses KBM nanti. Hati saya sangat gembira hari ini, saya sudah
tidak sabar bertemu murid-murid SDK dari kelas PAUD – SMA, lebih
tepatnya saya juga penasaran terhadap metode pembelajaran dan kegiatan
sehari-hari yang dilakukan murid-murid disini juga mengajar mereka
membaca dan menulis.
Satu persatu anak-anak mulai berdatangan.
“Assalammualaikum…” Sahut salah seorang murid putrid.
“Waalaikumsallam..”Jawabku “Masuk dek…silahkan” Lanjutku lembut.
Dengan
seragam putih-biru langitnya, anak itu tampak bersemangat untuk
sekolah. Biasanya murid-murid yang datang lebih awal adalah mereka yang
kedapatan jadwal piket masak. Lama-kelamaan seisi ruangan mulai penuh
dengan murid-murid, merekapun nampaknya sibuk dengan aktivitas seperti
mencari kayu, membersihkan meja dan lantai, menyiapkan tungku untuk
masak, ada juga yang duduk diam sambil membaca-baca buku Saya terus
memperhatikan aktivitas yang terjadi pagi itu. Sambil berkenalan dan
mengajak bincang-bincang beberapa siswa putri, saya semakin ingin
mengetahui lebih dalam lagi tentang sekolah luar biasa ini.
Barulah
kira-kira pkl. 07.00 Ibu Guru Kembar datang ke sekolah. Nampaknya sudah
menjadi suatu kebiasaan murid-murid disini, jika mendengar Ibu guru
kembar sudah datang, maka ada yang menjemput ketempat parkiran yang
biasa Ibu Guru Kembar singgahi. Mereka bersama-sama membawakan barang
bawaan Ibu Guru yang sebagian besar adalah segala sesuatu yang menjadi
keperluan sekolah, seperti bahan masak hari itu, susu, kacang ijo, tak
lupa perlengkapan memasaknya kain batik yang belum selesai proses
pembuatannya dsb.
Setelah mengucap salam kepada Ibu Guru Kembar, saya langsung bergegas menanyakan tugas yang harus saya lakukan pagi itu.
“Ibu..ada yang bisa saya Bantu?” Tanyaku sopan.
“Iya nak..hari ini siapa yang piket masak dan ke pasar ya?” Jawab Ibu Guru sambil mengeluarkan barang bawaannya.
Setelah kami berunding, kami sudah menentukan siapa yang akan piket masak hari itu.
Saya
pun mendapat tugas untuk pergi ke pasar Japat bersama Viki, salah
seorang siswa kelas 4 SDK. Kamipun pergi ke pasar dengan riang, sambil
menyusuri jalan raya, saya dan Viki bercerita tentang keseharian Viki di
sekolah. Tak terasa berjalan sambil bercerita akhirnya sampai juga kami
di pasar Japat. Kami langsung membeli bahan-bahan yang Ibu amanatkan,
seperti bumbu jadi. Kangkung, kelapa parut dan sambelan, total belanja
hari itu hanya Rp. 42.000 saja, karena Ibu telah mempersiapkan bahan
lainnya dari rumah. Setelah itu kamipun bergegas pulang ke sekolah.
Saya
meninggalkan ruangan kelas utama dan menuju ke kelas PAUD yang terletak
di luar. Wah..wah jujur aku sangat prihatin melihat keadaan sekitar
kelas PAUD yang kurang nyaman dipakai untuk belajar. Saat pertama
mengajar, kebetulan musim hujan, jadi tanahnya becek dan banyak
lubangnya. Kami semua belajar di bawah tenda sederhana atapnya terbuat
dari terpal. Genangan airpun terlihat mencekung di atapnya. Lantainya
hanya berupa semen-semen yang landai dan tidak rata. Genangan air hujan
ada dimana-mana menempati lubang-lubang disekitarnya. Jadi anak-anak itu
belajarnya miring-miring, posisinya sangat memprihatinkan. Sayang
sekali kelas PAUD tidak bisa belajar di dalam, selain tempatnya agak
sempit, anak-anak juga sering menangis sehingga membuat suasana belajar
terganggu. Belum lagi jika anak yang tidak bisa lepas dari genggaman
orangtuanya-sang ibu-memanggil-manggil ibunya untuk selalu didekatnya,
hal itu adalah beberapa alasan yang menyebabkan kelas PAUD tidak bisa
belajar di dalam kelas.
Kendati
demikian, mereka tetap semangat belajar, apalagi kalau menyanyi
bersama..ckckckckccck semangat 45!!! Dengan meja dan kursi untuk
masing-masing murid, mereka bersukacita menyambut pelajaran hari itu.
Ety..ya
dialah rekanku selama mengajar di PAUD. Ibu guru kembar telah
mempercayakan Ety sejak lama untuk memegang kelas PAUD. Saya banyak
belajar darinya. Saya selalu mempelajari bagaimana cara dia mengajar dan
kegiatan apa saja yang berlangsung selama kelas dimulai. Ternyata
sangat mengasikkan sekali. Sambil belajar dari Ety, saya mencoba
menghafalkan nama murid-murid PAUD yang jumlahnya tidak terlalu banyak
saai itu.
“Ya..anak-anak..sebelum
kita mulai belajar mari kita ucapkan al-fatihah..”Itulah kata-kata
super yang diucapkan Ety sebelum pelajaran dimulai
“Amiiinn..”Lanjutnya”
“Tangan ke atas..ke samping..ke depan..ucapkan selamat pagi kakak..”Tambahnya dengan suara nyaringnya yang khas.
“Selamat pagi kakak…”Seru murid-murid serentak.
Selagi Ety memimpin beberapa nyanyian seperti:Bapak Tani, Allah Saya Satu, Potong Bebek Angsa, Satu-satu Aku Sayang Alla, Pelangi-pelangi dll,
saya mencoba menghafalkan nama-nama murid disini. Beberapa murid yang
hadir saat itu dan yang saya hafal diluar kepala adalah : Adit, Abbas,
Nova, Sisda, Saputra, Udin, Farhan, Adelia, Annis, Hanny, Irvine,
Rodiah, dan Yopie. Selebihnya sedang tidak hadir saat itu. Dari semua
murid, saya benar-benar dibuat tertawa oleh tingkah pola Udin, jika ia
menyanyi, semangatnya paling luar biasa dari antara murid lainnya.
Sungguh membuat orang lain yang melihatnya tertawa geli. Kagiatan
setelah berdoa dan bernyanyi bersama adalah mengumpulkan PR. Tiap murid
harus berbaris rapi dan meletakkan bukunya dengan benar untuk dinilai
kemudian, setelah itu barulah saatnya kita semua belajar menulis angka
dan huruf.
Tak
terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, kelas sebentar lagi
akan berakhir. Biasanya sebelum pulang ke rumah masing-masing, para
murid harus berbaris untuk mengambil susu atau kacang hijau yang sudah
disiapkan oleh piket masak.
Ya
beginilah kegiatan sehari-hari disini, setiap jam 09.00 murid PAUD
selesai belajar dan harus antri mengambil jatah susu, sedangkan kelas
SD-SMA juga mengantri sesudahnya. Bedanya, kelas SD-SMA juga diberi
makan oleh Ibu Guru Kembar, akan tetapi mereka tidak langsung pulang
seperti PAUD, melainkan pulang pada sore hari. Catatan penting disini
adalah, mereka wajib membawa peralatan makan sendiri, jika tidak…hmmmmm
jangan harap mereka boleh ikut makan. Hal ini dilakukan untuk memupuk
kedislipinan dan kemandirian para murid. Demikianlah kegiatan makan
bersama di Sekolah Darurat Kartini. Tak jarang juga, Ibu Guru Kembar
membagikan sabun atau mie instan untuk tiap-tiap murid sebelum mereka
pulang
Setelah
kelas PAUD pulang, tugas saya telah selesai. Namun saya tidak berdiam
diri saja, saya suka memperhatikan keadaan sekitar kelas dan suasana
belajar-mengajar. Diam-diam saya mempelajari cara Ibu Guru Kembar dalam
memberikan materi dan cara ia mengajar di kelas. Sungguh saya terkagum.
Walau dalam sebuah celotehan yang kadang mengagetkan dan dalam bungkusan
didikan keras melalui ucapan, tetapi terkandung cinta kasih kepada
naradidiknya. Saya juga memperhatikan rekan-rekan mahasiswa lainnya yang
sedang mengajar, kadangkala saya suka bergabung di bangku paling
belakang guna mengingat pelajaran semasa SMP-SMA dulu.
Nah,
inilah hal yang paling menarik, yaitu tatkala kami semua makan bersama
Ibu Guru Kembar. Para mahasiswa yang magang beserta Ibu Guru Kembar
makan setelah para murid dari SD_SMA selesai mengantri makan. Ibu Guru
Kembar sendirilah yang menyidukkan nasi, sayur dan lauk-pauk kepada para
murid yang berbaris rapi memanjang ke belakang itu. Dengan telaten dan
sabar akhirnya antrian itu selesai sudah. Waktu makan bersama dengan Ibu
Guru kembar kami isi juga dengan obrolan ringan seputar Sekolah Darurat
Kartini, juga tak jarang Ibu Guru kembar menceritakan kisah-kisah
menarik sepanjang perjalanan hidupnya. Sungguh suatu moment yang
berharga. Saya banyak mengambil amanah hidup dari pengalaman, nasihat,
dan ajaran beliau.
Beliau
pernah menuturkan bahwa murid-murid disini semua memiliki keluarga yang
bermasalah. Untuk itu diperlukan strategi khusus dalam mendidik dan
menyelesaikan kasus-kasus yang diperhadapkan dengan mereka. Jadi
penanganan terhadap murid-murid disini berbeda dengan penanganan untuk
anak-anak pada umumnya, berkaitan dengan latar belakang kehidupan yang
keras, sulit, dan liar membuat Ibu Guru Kembar juga harus sabar dan
sering “mengurut dada” karena ulah murid-murid yang nakal. Di samping
itu juga banyak murid-murid berprestasi, diantaranya yang pernah Ibu
Guru ceritakan kepada kami adalah Nuris, Silvy, Sari, Aan dan Woro.
Tentunya setiap murid disini memiliki kelebihan unik tersendiri, namun
ada beberapa nama yang Ibu Guru sangat banggakan. Nama-nama yang
disebutkan di atas nyatanya memiliki sejarah kebanggaan tersendiri untuk
Ibu Guru. Adapula 2 orang murid kepercayaan yang tinggal bersama dengan Ibu Guru di rumahnya yang terletak di kelapa Gading, yaitu Yana dan Sari.
Selain
itu ada pula beberapa siswi yang sudah mulai saya kenal mereka adalah,
yaitu Fauziah, Ayu, Dina, Saripah, Nurmila, dan Tian. Memang saya belum
menegenal mereka secara mendalam, tetapi sepintas mereka semua adalah
anak baik dan berprestasi.
Ibu
Guru juga sedikit menceritakan tentang keluarga dan cucu-cucunya. Ya,
Ibu Guru memang seorang yang berada. Anak-cucu-menantu nyapun memiliki
riwayat pendidikan yang mengagumkan. Ada yang kuliah di luar negeri dan
sekolah di international school, sungguh suatu kesempatan dan
kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT kepada keluarga besar Ibu Guru
Kembar. Amatlah berbeda dengan murid-murid yang bersekolah disini,
rata-rata dari mereka orangtuanya kurang mampu. Sepengetahuan saya, ada
yang ayahnya seorang pemulung, ada pula yang menganggur, juga tak
sedikit yang single parent, walau demikian masih ada juga murid yang keluarganya tidak terlalu bermasalah dan ia termesuk kategori murid berprestasi.
Untuk itulah Ibu Guru selalu menekankan kepada para murid, agar selain rajin belajar, mereka juga harus rajin bekerja.
“Anak-anak itu harus kerja biar dapet duit untuk dirinya sendiri, tapi ndak boleh jadi penegmis” Seru Ibu Guru dengan tegas.
Ya
itulah yang Ibu Guru selalu ingatkan agar mereka jangan meminta-minta,
melainkan harus bekerja. Dengan cara apa? Bukan dengan mengeksploitasi
tenaganya, melainkan dengan memberikan dasar-dasar keterampilan seperti
membatik, menjahit, menyulam, membuat kue, menari, olahraga dsb. Nah
dari situlah mereka nanti akan memperoleh upah dari apa yang sudah
mereka usahakan. Menurut saya ini sangat membentu perekonomian mereka.
Buktinya kalau batik mereka laku terjual, uangnya pun akan diberikanm
kepada mereka, padahal kalau dipikir-pikir Ibu Guru lah yang memeberikan
modal dan semua perlengkapan yang dibutuhkan.
IV. Ibu Guru Kembar
“Ibu
guru kembar” demikianlah orang-orang menyapa sang perintis Sekolah
Darurat Kartini ini. Dimata saya Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih
adalah kartini masa kini yang dengan pengorbanan serta ketulusannya
mendidik dan mengajar murid-murid di lembaga pendidikan
semiformal yang didirikan pada tahun 1996 ini. Perempuan kelahiran 4
Februari 1950 ini dengan tenang dan tulus memberikan banyak ilmu,
kendati sekolah yang dirintisnya dalam satu dekade silam itu kerap
terancam keberadannya. Saya bangga pada beliau-beliau ini. Sekalipun
cara mendidik mereka tegas dan sangat disiplin, namun ada makna dibalik
itu semua, ada cinta dari setiap amarah yang ditujukan pada
naradidiknya. “Anak-anak disini harus diajarkan disiplin, ndak boleh
sembarangan kayak di omahnya ndewe, kalo sekolah disini mesti ada
aturannya.” Tukas Ibu Ros lagi-lagi dengan logat Jawa medoknya.
Ya..memang begitulah cara mendidik Ibu guru kembar yang diadaptasi dari
cara mendidik zaman Belanda. Agak keras aturannya namum baik hasilnya
Baik
Ibu Sri Rosiati dan Sri Irianingsih tak pernah memperlihatkan
kegelisahan dan masalah di depan murid-muridnya, mereka mencoba tetap
bersikap tegar jika ada masalah yang menghadang. Itulah nilai plus dari
Ibu guru kembar, yang selalu menyerahkan segala perkara pada Allah SWT.
Sesuai dengan misi sekolah darurat ini yaitu turut mencerdaskan anak-anak bangsa,
maka Ibu guru kembar selalu menegaskan bahwa tugas seorang pelajar
adalah belajar. Selain itu juga harus terampil agar menghasilkan
pendapatan. Maka dari itu, mereka mewariskan ilmu keterampilan seperti
membatik, menjahit, menyulam,memasak, marawis dan angklung
kepada murid-murid sekolah darurat. Agar selain pintar, juga memiliki
keterampilan yang akan berguna di masa depan. Dari hal ini saya dapat
melihat bahwasannya Ibu guru kembar sedang mempersiapkan mental interpreneurship melalui kegiatan keterampilan tersebut.
Ibu
guru kembar selalu menekankan bahwa sekolah ini gratis, tanpa
pemungutan biaya sekolah sepeserpun kepada orang tua. Setiap murid yang
mau bersekolah ditempatnya, maka akan diberikan seragam putih-batik-biru
langit dan perlengkapan sekolah lainnya sudah tersedia. Fasilitas
keterampilan juga dapat meerka peroleh cuma-cuma di sekolah, jika mereka
hendak membatik, marawisan , latihan angklung, bermain futsal dsb.
Itulah mengapa beliau-beliau ini kerap mengeluarkan kocek pribadinya
untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka. Berkenaan dengan misi sekolah
ini, besar harapan Ibu guru kembar untuk melihat murid-muridnya kelak
menjadi “orang” dan berguna bagi keluarga, masyarakat, juga bangsa.
Beliau ingin naradidiknya ridak salah jalan dan menjadi “sampah
masyarakat”.
Sekali
lagi, siapa yang tidak bangga pada Ibu guru kembar? Dari Sekolah
Darurat yang sederhana ini, beliau telah berhasil ‘meluluskan’ lebih
dari 2.000 alumni sekolah darurat di berbagai kawasan Jakarta. Di
antaranya ada yang menjadi polisi, perawat, keryawan swasta, kasir,
pegawai bank, hingga pengusaha kecil. Sungguh prestasi luar biasa dan
patut diteladani.
Tenaga
pengajar utama di Sekolah Darurat Kartini tak lain adalah Ibu Sri
Rosiati dan Sri Irianingsih sendiri. Hanya ada seorang tenaga pengajar
khusus mata pelajaran B. Inggris saja yang turut membantu proses
belajar. Itu juga setiap hari sabtu saja, Pak Warsito namanya.
Selebihnya hanya beliau berdualah yang mengajar SD-SMA. Kelas PAUD
biasanya dipegang oleh murid SMP yang sudah mendapat kepercayaan untuk
mengajar, juga untuk mengaji biasanya murid-murid yang sudah SMA lah
yang mengajar adik kelas lainnya.
Saya
senang bisa ditempatkan oleh kampus untuk magang selama 1 bulan disini.
Tatkala saya mendapat teguran dari Ibu guru kembar saya selalu mengucap
syukur, karena masih ada yang mau menasihati saya. Banyak hal positif
dari setiap nasihat Ibu guru kembar kepada saya juga teman-teman magang
lainnya. Takkan pernah terlupakan dalam ingatan saya, jasa Ibu guru
kembar yang begitu cantik parasnya. Saya jadi ingat suatu kutipan dan
akan saya persembahkan untuk Ibu guru kembar….
V. Lingkungan Sekitar Sekolah Darurat Kartini
Namanya
juga daerah pinggiran Jakarta, sudah pasti lingkungan sekitar Sekolah
Darurat Kartini pun terlihat kumuh, kotor dan jauh dari kata higienis.
Di depan sekolah ini, tampak sebuah lahan kosong -lebih tepatnya tanah
berdebu yang tidak rata bentuknya- yang biasanya di pakai truk-truk container untuk parkir Kendaraaannya
yang bermalam disana. Selain itu pemandangan lainnya adalah seoonggok
tempat sampah basah yang bersebelahan dengan sumur, yang sumber airnya
sudah tidak jernih lagi. Tak jauh dari situ juga terdapat empang yang
sangat kotor dan mengeluarkan bau tidak sedap lagi. Wah..wah pokoknya
lingkungan sekitar SDK sangat jauh dari kata “bersih”.

Tak
sedikir rumah-rumah petak yang kecil dan semrawut membingkai kawasan
sekolah ini. Saya sangat prihatin dengan rumah-rumah disekitarnya.
Jaraknya antara rumah satu dengan yang lain saling tumpah tindih.
Rasanya sangat tidak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Tapi berbeda
dengan tanggapan warga yang tinggal disana, karena sudah terbiasa
dengan situasi seperti itu, maka adalah suatu hal yang lumrah, jika
hidup harus bersentuhan dengan yang namanya “lingkungan kotor tak
higienis” seperti itu. Karena dilingkungan seperti itulah mereka lahir,
tumbuh, sekolah dan hidup dalam rentan waktu yang cukup lama, jadi tidak
masalah bagi mereka.
Jarak
sekolah ini dengan lintasan rel hanya dibatasi oleh sebuah lahan kecil,
yang dipenuhi dengan sampah dan kotoran manusia. Namun seiring
berjalannya waktu, kami perlahan membersihkan lahan mungil di belakang
sekolah kami, dan menanaminya dengan tumbuhan rempah-rempah. Lahan
mungil ini hendaknya dapat menjadi kenangan tersendiri bagi seluruh
murid SDK, agar tetap mengingatkan kami setelah kami pergi meninggalkan
sekolah ini, bertepatan pula dengan berakhirnya masa magang kami.
Tetangga
terdekat kami di sekitar SDK sangat ramah-ramah dan baik hati. Mama
Iin… ya beliau dan keluarganya lah yang banyak membantu kami selama
berada di sekolahan. Saya ingat betul, ketika saya sempat jatuh sakit
karena diserang demam tinggi disertai dengan muntaber, Mama Iin mengerok
punggung saya dan membantu saya untuk pergi berobat. Kiranya kebaikan
beliau sekeluarga dapat dibalas oleh Tuhan YME. Tetangga lainnya juga
sangat ramah kepada kami, tak jarang saya dengan rekan mahasiswa lain
mengobrol bersama disore hari ketika sedang bersantai di depan halaman
sekolah. Banyak hal yang menjadi bahan perbincangan dengan mereka, baik
tentang lingkungan sekitar sana yang sangat rawan, tentang sekolah ini,
keluarga mereka, anak-anak mereka yang sedang bersekolah di sekolah lain
dll. Dari obrolan santai itu pula, saya mendapat banyak wawasan baru
mengenai kehidupan yang keras dan liar ini, bagaimana bersosialisasi
dengan masyarakat menengah ke bawah, bagaimana mereka bekeeja keras
mempertahankan hidup keluarganya dan bergelut dengan kemiskinan. Saya
jadi ingat Ibu Guru Kembar pernah berkata, “ Saya selalu tekankan pada
anak-anak disini, klo mereka lulus mesti kerja biar dapet duit terus
beli omah ndewe! Jangan ngontrak kaya orang-orang sini..Lha wong status
social itu penting. Punya rumah sendiri lebih baik lho” Begitulah
nasihat Ibu Guru. Memang ada benarnya, saya pun punya cita-cita akan
memiliki rumah pribadi yang layak huni dan membahagiakan seluruh
keluarga besar saya. Ya itulah yang saya suka dari Ibu Guru…walau dalam
celetukan santai pada sebuah obrolan ringan, tapi ada banyak pelajaran
hidup yang dapat kita petik dari setiap ucapannya. Terima kasih Ibu
Guru…
Saya
bersyukur bisa dipertemukan dengan Ibu Guru Kembar, murid-murid Sekolah
Darurat Kartini dengan berbagai macam karakter, juga warga sekitar SDk
yang bersahabat, ramah dan mau membantu tetangga satu sama lain.
Semoga
kehidupan mereka dekat dengan berkat dari Sang Maha Pencipta, bahagia
selalu dan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi dari keadaan
sekarang ini.
Tuhan memberkati kalian semua.
VI. Perpisahan Bukan Akhir Segalanya
Berat
rasanya untuk meninggalkan sekolah ini. Bagaimana tidak? Setelah saya
menghitung hari, ternyata tak lama lagi kami harus pergi meninggalkan
sekolah tercinta ini. Waktu magang kami akan berakhir di tanggal 17 Juli
2010, dan kami harus berhadapan dengan mata kuliah yang sudah menanti
di semester 5 ini. Sesungguhnya saya benci dengan perpisahan, rasanya
sakit sekali. Apalagi saya sudah senang mengajar disini, namun hidup
harus terus berjalan. Toh suatu saat nanti, ketika saya lulus dari STT
Apostolos Jakarta, saya bias berkunjung ke sekolah ini lagi. Terlepas
dari ikatan magang dari pihak kampus, saya sangat senang bias hadir dan
merasakan hidup dengan lingkungan seperti ini, keras dan liar.
Ada
pelajaran hidup yang membuka mata hati saya. Terutama dari kasus-kasus
kehidupan murid-murid disini yang cukup mengerikan, yang tak lain sumber
masalah biasanya ada pada orangtua mereka. Kiranya kita semua dapat
mengambil hikmah dari setiap problematika kehidupan mereka, karena
setiap orang hidup pasti memilki masalah, yang terpenting kembali kepada
individu tersebut, sampai sebatas mana ia mampu menghadapi masalah itu
dengan lapang dada dan tentunya berserah pada Sang Maha Kuasa.
Dari
event itulah timbuk keakraban lebih dalam lagi antara mahasiswa/I dan
seluruh murid SDk sehingga kami semakin kompak saja. Sangat menyenangkan
sekali, karena kami menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dengan
berbagai kegiatan positif dan bermanfaat yang acaranya puncaknya berupa
pertandingan futsal persahabatan antara tim Persaka dan tim PT. Loreal,
dengan skor akhir 6-0 bagi tim Persaka.
Dalam
kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas segala
bimbingan dan kesempatan yang diberikan oleh Ibu Guru Kembar, juga
kepada murid-murid SDK yang saya sayangi dan sudah saya anggap seperi
adik saya sendiri. Semoga langkah kalian selalu disertai Tuhan YME,dan
semangat serta cita-cita kalian takkan pernah pudar, melainkan semakin
berkobar dan dapat menjadi berkat bagi diri sendiri, orang lain,
keluarga, masyarakat juga bangsa dan Negara. Sukses selalu..maju terus
pantang mundur menjalani hidup ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar